Tanqihul Qoul ; Bab 7. Keutamaan Menggosok Gigi


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين والعاقبة للمتقين ولا عدوان إلا على الظالمين والصلاة والسلام على خير خلقه محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Sebelumnya perlu dimengerti bahwa kali ini kita akan ngaji bareng kitab karangan ulama' NUsantara- Syaikh Nawawi Banten -, yaitu TANQIHUL QOUL HATSITS Syarah Kitab LUBABUL HADITS Karangan Syaikh Jalaluddin as-Suyuthi. Pengajian ini akan  saya bagi menjadi 40 bab, sebagaimana kitab aslinya.

Kitab matannya seperti pernyataan Syaikh Jalaluddin as-Suyuthi adalah kitab yang memuat tentang hadist-hadist Nabi dan perkataan Sahabat yang di riwayatkan dengan benar dan bisa di percaya, dan agar lebih ringkas beliau telah membuang beberapa sanadnya.

Sedangkan dalam kitab syarahnya...sesuai pernyataan Syaikh Nawawi Banten, bahwa kitab ini sekalipun di dalamnya ada hadits-hadits dloifnya tapi jangan diabaikan begitu saja, karena ulama sepakat bahwa hadits dloif  masih bisa di pakai untuk Fadloilul A'mal.


BAB VII
KEUTAMAAN MENGGOSOK GIGI

روي عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «الطَّهاراتُ أَرْبَعٌ: قَصُّ الشَّارِبِ، وَحَلْقُ العَانَةِ، وَتَقْلِيمُ الأظْفَارِ، والسِّوَاكُ» رواه البزار والطبراني عن أبي الدرداء.

Diceritakan dari Abu Huroiroh RA. Bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, “ Kebersihan itu menyangkut empat perkara, yaitu, 1. Mencukur kumis, 2. Memotong rambut yang ada di atas kelamin, 3. Memotong kuku, dan 4. Menggosok gigi (bersiwak). (HR. Al-Bazzar, Thabrani dari Abi Darda’).

Hadits di atas menunjukkan bahwa menggosok gigi adalah salah satu dari kebersihan, sedangkan kebersihan adalah sebagian dari iman. Tidak hanya itu, bahkan Rasulullah SAW bersabda “bahwa sholat dua rokaat (yang sebelumnya di awali) dengan bersiwak (menggosok gigi) itu lebih baik dibanding sholat 70 rokaat tanpa menggosok gigi.[1]” (HR. Ad-Daruquthni dari Ummud-Darda’. Hadits ini sanad-sanadnya hasan).

Demikian ini karena menggosok gigi itu mempunyai banyak sekali guna dan faidahnya, di antaranya, mengharumkan mulut dan mengingatkan syahadat ketika (hendak) mati. Sesuai dengan hadits Nabi SAW riwayat Ibnu Majah, “Bersiwaklah kalian semua, karena sesungguhnya bersiwak itu bisa membersihkan mulut dan bisa (mendatangkan) ridlo Allah SWT.”

Bahkan disebutkan bahwa menggosok gigi ini merupakan kebiasaan para nabi dan rasul, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Ada enam hal yang termasuk prilaku dan kebiasaan para rasul, 1. Malu melakukan perbuatan yang tidak baik[2], 2. Bijak (lapang dada dan tahan banting), 3. Bekam, 4. Bersiwak (menggosok gigi), 5. Memakai parfum, 6. Banyak istri.

(وَقَالَ صلى الله عليه وسلم: ثَلاَثَةٌ واجِبَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ[3]) أي فعلهن مندوب ندبا مؤكدا عليه (الغُسْلُ يَوْمَ الجُمُعَةِ والسِّواكُ وَمَسُّ الطِّيبِ) أي يوم الجمعة، وإن كان ذلك مطلوبا في غيره أيضا، وروي عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «ثَلاَثٌ هُنَّ عَلَيَّ فَرِيضَةٌ، وَهُنَّ لكم سُنَّةٌ السِّوَاكُ وَالوِتْرُ وَقِيَامُ اللَّيلِ».

Rasulullah SAW bersabda, “ada tiga hal yang harus dilakukan oleh setiap muslim, yaitu, mandi jum’at, bersiwak dan memakai pewangi pada hari jum’at. Hukumnya sunnah muakkad. Sebab dalam hadits yang diriwayatkan dari siti Aisyah, menyebutkan bahwa bersiwak (menggosok gigi) itu hukumnya hanya wajib atas Rasulullah SAW semata bukan atas umatnya. Siti Aisya berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ada tiga hal yang wajib atasku tetapi sunnah atas kamu semua, yaitu, 1. Bersiwak, 2. Melakukan soholat witir, dan 3. Qiyamul lail.

(وَقَالَ صلى الله عليه وسلم: طَيِّبُوا أفْوَاهَكُمْ) أي بإزالة الرائحة الكريهة منها (بالسِّواكِ فإنَّهُ طَرِيقُ القُرْآنِ) وفي حديث رواه الطبراني عن ابن مسعود بإسناد حسن، تَخَلَّلُوا فَإنَّهُ نَظَافَةٌ، والنَّظَافَةُ تَدْعُو إلى الإيمانِ، والإيمانُ مَعَ صَاحِبهِ، أي في الجنة والمعنى: أخرجوا ما بين الأسنان من الطعام بالخلال، فإن ذلك نظافة للفم والأسنان، وفي رواية، فَإنَّهُ مَصَحَّةٌ لِلنَّابِ وَالنَّوَاجِذِ

Rasulullah SAW bersabda, “Harumkan (bersihkan) mulutmu (dari bau yang tidak sedap) dengan bersiwak karena mulut itu jalan keluarnya Al-Qur’an. Dalam hadits riwayat thabrani dari Ibnu Mas’ud, sanadnya hasan, disebutkan, “selah-selahilah gigimu semua (gosoklah gigimu semua) kare sesungguhnya itu adalah kebersihan, sedangkan kebersihan itu bisa membuatmu beriman dan iman akan menyertai pemiliknya di surga.

Maksud dari hadits tersebut adalah, keluarkan bekas-bekas makanan yang ada di antara gigi-gigi dengan cukil gigi (atau dengan menggosok gigi), karena hal itu bisa membersihkan mulut dan gigi. Dalam satu riwayat disebutkan “bisa menyehatkan gigi taring dan gigi geraham.

(وقال صلى الله عليه وسلم: رَحِمَ الله المُتَخَلِّلينَ مِنْ أمَّتِي في الوُضُوءِ) أي والغسل أي في شعورهم (وَالطَّعامِ) أي من آثار الطعام بإخراج ما بقي منه بين الأسنان، وفي هذا الحديث ندب تخليل الشعور في الطهارة، وتخليل الأسنان من آثار الطعام، دعا صلى الله عليه وسلم لهم بالرحمة لاحتياطهم في العبادة، فيتأكد الاعتناء به للدخول في دعوة رسول الله صلى الله عليه وسلم رواه القضاعي عن أبي أيوب الأنصاري، وهو حديث حسن. (وقال صلى الله عليه وسلم: لاَ تَتَخَلَّلُوا بِالآسِ) بمد الهمزة هو شجر عطر الرائحة (والرَّيحانِ) وهو كل نبات طيب الريح، ولكن إذا أطلق عند العامة انصرف إلى نبات مخصوص (والقَصَبِ) بفتحتين كل نبات يكون ساقه أنابيب وكعوبا (فَإنَّهُ) أي التخلل بذلك المذكور (يُورِثُ الإكلَةَ) بكسر الهمزة، أي الحكة حتى تتساقط الأسنان

Rasulullah SAW bersabda; Allah menyayangi orang-orang yang mau menyelah-nyelahi (rambut-rambutnya) pada saat wudlu dan (mandi), dan (menyelah-nyelahi gigi-giginya dari bekas-bekas) makanan. Hadits ini menunjukkan sunnahnya menyelah-nyelahi rambut pada saat bersuci dan menyelah-nyelahi gigi dari bekas-bekas makanan. Rasulullah SAW mendoakan orang tersebut mendapatkan rahmat Allah karena mereka mau berhati-hati dalam beribadah. Karena do’a Rasulullah itu maka takhlilus syu’ur fit thoharoh wa takhlilul asnan min atsaarit tho’am (menyelah-nyelahi rambut pada saat bersuci dan menyelah-nyelahi gigi dari bekas-bekas makanan) kesunahannya menjadi lebih kuat (mu’akkad). (Riwayat al-Qudloi dari Abi Ayyub al-Anshori hadits ini adalah Hadits Hasan).

Namun, meskipun demikian Rasulullah melarang kita bersiwak atau menyelah-nyelahi dengan benda-benda yang bisa merontokkan gigi, sebagaimana sabda beliau SAW, “Jangan menyelah-nyelahi (menggosok) gigi dengan kayu as, kayu raihan[4] dan bambu, sebab benda-benda itu bisa membuat gatal dan merontokkan gigi.

(وقال صلى الله عليه وسلم: صَلاَةٌ بِسِواكٍ خَيْرٌ مِنْ سَبْعِينَ صَلاَةً) أي من صلوات كثيرة (بِغَيْرِ سِوَاكٍ) رواه البيهقي وغيره وصححه الحاكم، فالسبعون للتكثير لا للتحديد كما أفاده العزيزي. (وقال صلى الله عليه وسلم: مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصيني بالسِّواكِ حَتَّى خَشِيتُ أَنْ يَدْرَدنَّ) بفتح الراء والنون المثقلة (أسْنَانِي) أي أن تسقط أسناني، وفي لفظ وأوصاني جبريل بالسواك حتى خشيت لأدردن، وفي لفظ آخر أمرني بالسواك حتى خفت لأدردن، أي حتى ظننت سقوط أسناني. (وقال صلى الله عليه وسلم: أمرت) بالبناء للمفعول (بالسِّوَاكِ حَتَّى خِفْتُ عَلَى أسْنَانِي) رواه الطبراني عن ابن عباس.

Nabi Muhammad SAW bersabda; Satu sholat (yang didahului) dengan menggosok gigi itu lebih baik daripada 70 sholat tanpa (didahului) dengan menggosok gigi  (HR. Al-Baihaqi dan lainnya, hadits ini dishohihkan oleh Al-Hakim). Kata al-Azizi, 70 ini adalah banyaknya bukan batasannya. Nabi Muhammad SAW juga bersabda ; Jibril selalu berpesan kepadaku (agar) selalu menggosok gigi sampai aku khawatir gigiku rontok. Dalam riwayat Thobroni dari Ibnu Abbas; Aku diperintahkan (agar) selalu menggosok gigi sampai-sampai aku khawatir atas gigi-gigiku. Wa Allahu A’lam.


[1] Al-Munawi berkata ; Hadits ini tidak menunjukkan kalau sholat dengan menggosok gigi itu lebih utama ketimbang sholat dengan berjama’ah.
[2] Al-Munawi berkata yang benar sebagaimana yang dikatakan oleh jamaah adalah Khitan bukan Haya’ (malu).
[3] Kiyai syarikh mengatakan yang dimaksud hadits tersebut adalah bahwa melakukan tiga hal tersebut hukumnya sunnah muakkad bukan wajib.
[4] Kayu As dan Kayu Raihan adalah kayu yang wangi bahunya tapi bisa menimbulkan rasa gatal

0 Response to "Tanqihul Qoul ; Bab 7. Keutamaan Menggosok Gigi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel