Habib Khalid, Hanya Ilmu Yang Pantas Dibanggakan


Setelah prosesi kataman oleh santri-santri Al-Hidayat Gerning, acara puncak Khotmil Kutub dan Haul diakhiri dengan ceramah agama yang di isi oleh al-Habib Khalid bin Hasan al-Madhij dari Pasuruan Jawa Timur. Sebelumnya ada sambutan dari Ketua PWNU Propinsi Lampung Prof. Dr. Muhammad Mukri yang juga Rektor UIN Bandar Lampung.

Dalam sambutannya Prof. Mukri mengajak warga NU untuk menjaga kerukunan di lingkungannya masing-masing, jangan mudah terpengeraruh oleh berita-berita yang belum tentu benarnya, dan karena tiga hari pemilu, Prof. Mukri menghimbau agar warga NU jangan golput, harus nyoblos sesuai pilihan hati nuraninya sendiri-sendiri.

Sedangkan al-Habib Khalid bin Hasan al-Madhij selain menyeru agar masyarakat tenang, tetap rukun dan jangan terpancing emosinya hanya karena beda pilihan, karena bagaimanapun pemilu itu adalah rutinitas lima tahunan. Beliau juga banyak menyinggung bagaimana kedudukan murid di depan guru-gurunya.

“Murid di depan guru itu seperti mayat di depan orang yang memandikannya, jadi ya harus nurut dan tunduk”. Tegas al-Habib Khalid salah satu murid al-Habib Umar bin Hafidz Hadlrohmaut Yaman saat mengisi ceramah di pp. Al-Hidayat Gerning 14/04.

“Pada suatu saat Sufyan Ats-Tsauri”, cerita Habib Khalid, “pernah ngaji di depan halayak ramai, tiba-tiba beliau berhenti dan berdiri, sehingga ada salah satu jama’ah yang bertanya kepada beliau, mengapa tiba-tiba berhenti dan berdiri?. Sufyan Ats-Tsauri menjawab, “saya melihat anak guru saya keluar dari pintu rumahnya sambil menendang bola, anak guru sama dengan guru saya”.

Ilmu adalah sesuatu yang harus dicari walaupun adanya jauh sekali walau bis shin (sampai china), karena tidak ada yang pantas dibanggakan kecuali ilmu.

“Apa, kendaraan mau kita banggakan, Mercy, Alphart?, kalau mati kendaraannya sama semua. Rumah mewah, besar, megah? Kalau mati rumah semua orang sama, tidak kaya tidak miskin, Pangkat? Paling 5 tahun atau 10 tahun lepas. Tidak ada yang pantas dibanggakan kecuali ilmu, kata Sayyidina Ali Karromallohu Wajhah” ungkap Habib Khalid.

“Rasulullah SAW pernah bersabda”, lanjut Habib Khalid, “yang membuat Nabi Musa meminta tanggungjawab Rasulullah atas sabdanya itu, adalah ulamaau ummati ka anbiyai bani isroil. Untuk mempertanggungjawabkan dan membuktikan sabdanya itu, Rasulullah SAW mengajak Imam Ghozali untuk menemui Nabi Musa as,” kemudian Habib Khalid al-Madhij menceritakan dialog pertemuan Imam Ghozali dan Nabi Musa as.

Hadir pada acara tersebut, Katib Suriyah PWNU Propinsi Lampung, Ketua Tanfidziyah PWNU Propinsi Lampung, Ketua Dewan Fatwa MUI Propinsi Lampung, Habib Asadullah Assegaf, Para kiyai-kiyai Nahdlotul Ulama’, Kapolres Pesawaran, Ketua DPRD Pesawaran, Dr. Muhammad Kadafi Rektol Malahayati Bandar Lampung, para alumni Pondok Pesantren Al-Hidayat Gerning dan lain lain.

0 Response to "Habib Khalid, Hanya Ilmu Yang Pantas Dibanggakan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2