Tanqihul Qoul ; Bab 6. Keutamaan Berwudlu


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين والعاقبة للمتقين ولا عدوان إلا على الظالمين والصلاة والسلام على خير خلقه محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Sebelumnya perlu dimengerti bahwa kali ini kita akan ngaji bareng kitab karangan ulama' NUsantara- Syaikh Nawawi Banten -, yaitu TANQIHUL QOUL HATSITS Syarah Kitab LUBABUL HADITS Karangan Syaikh Jalaluddin as-Suyuthi. Pengajian ini akan  saya bagi menjadi 40 bab, sebagaimana kitab aslinya.

Kitab matannya seperti pernyataan Syaikh Jalaluddin as-Suyuthi adalah kitab yang memuat tentang hadist-hadist Nabi dan perkataan Sahabat yang di riwayatkan dengan benar dan bisa di percaya, dan agar lebih ringkas beliau telah membuang beberapa sanadnya.

Sedangkan dalam kitab syarahnya...sesuai pernyataan Syaikh Nawawi Banten, bahwa kitab ini sekalipun di dalamnya ada hadits-hadits dloifnya tapi jangan diabaikan begitu saja, karena ulama sepakat bahwa hadits dloif  masih bisa di pakai untuk Fadloilul A'mal.


BAB VI
KEUTAMAAN BERWUDLU

روي عن الضحاك عن أبي هريرة رضي الله عنه أنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «مَا مِنْ عَبْدٍ ولا امْرَأةٍ تَوَضَّأَ فَأحْسَنَ الوُضُوءَ، ثُمَّ قَرَأَ بَعْدَهُ إنّا أنْزَلْنَاهُ في لَيْلَةِ القَدْرِ إلى آخِرها إلا أَعْطَاهُ الله تَعَالى بِكُلِّ حَرْفٍ مِنْهَا مائَةَ دَرَجَةٍ، وخَلَقَ الله تَعَالَى مِنْ كُلِّ قَطْرَةٍ قَطَرَتْ مِنْ وُضُوئِهِ مَلَكا يَسْتَغْفِرُ لَهُ إلى يَوْمِ القِيَامَةِ، كذا في رياض الصالحين».

Diceritakan dari Ad-Dlohak dari Abu Hurairah RA. Sesungguhnya ia telah berkata, Rasulullah SAW bersabda; “tidak ada laki-laki atau perempuan yang berwudlu dengan sempurna, lalu selesai berwudlu ia membaca “Inna Anzalna (surat al-Qodar)”, kecuali Allah akan memberi mereka setiap huruf dari surat tersebut 100 derajat dan Allah akan menciptakan dari setiap tetes air wudlunya seorang malaikat yang selalu berdoa kepada Allah untuknya sampai hari kiamat. (Riyadlus Shalihin).

(قال النبي صلى الله عليه وسلم: مَنْ تَوَضَّأ للصَّلاةِ فأحْسَنَ الوُضُوءَ) بأن راعى شروطه وفروضه وآدابه. (ثُمَّ قَامَ إلى الصَّلاةِ فإنَّهُ يَخْرُجُ مِنْ خَطِيئَتِهِ كَيَوْمَ وَلَدَتْهُ أمُّهُ) أي فإنه لم يبق منه شيء من ذنوبه الصغيرة، كأنه في يوم خروجه من بطن أمه قوله: كيوم مبني على الفتح لإضافته إلى فعل مبني.

Nabi SAW bersabda, Barangsiapa berwudlu untuk melakukan sholat lalu ia membaguskan wudlunya dengan melakukan syarat-syarat, ferdlu-ferdlu dan adab-adabnya, kemudian ia sholat, maka sesungguhnya ia keluar dari kesalahannya seperti hari di mana ia dilahirkan, artinya dosa-dosa kecil yang pernah ia lakukan tidak tersisa sedikitpun, seolah-olah ia terlahir kembali tanpa dosa.

(وقال النبي صلى الله عليه وسلم: مَنْ تَوَضَّأَ لِلصَّلاةِ وَصَلَّى كَفَّرَ الله ذُنُوبَهُ) والمراد الصغائر (ما بَيْنَهُ وَبَيْنَ الصَّلاةِ الأُخْرَى التي تليها وقال صلى الله عليه وسلم: مَنْ نامَ عَلَى وُضُوءٍ فَأَدْرَكَهُ الموتُ في تلكَ الليلةِ فَهُوَ عِنْدَ الله شَهِيدٌ). وفي الإحياء قال صلى الله عليه وسلم: «إذا نامَ العَبْدُ على طَهَارَةٍ عُرِجَ بِرُوحِهِ إلى العَرْشِ فَكانَتْ رُؤياهُ صَادِقَةً، وإن لَمْ يَنَمْ على طهَارَةٍ قَصَّرَتْ رُوحُهُ عَنِ البُلوغِ، فتلكَ المنامَاتُ أضغاث أحلامٍ لا تصدقُ».

Nabi SAW bersabda, Barangsiapa berwudlu untuk melakukan sholat dan ia (benar-benar) sholat, maka Allah akan menghapus dosa-dosa kecilnya (yang ia lakukan) di antara (sholat yang sedang dilakukan itu) dan sholat lain setelahnya. Nabi SAW juga bersabda, Barangsiapa tidur (dalam keadaan) berwudlu lalu ia meninggal pada malam itu, maka di sisi Allah ia seorang yang mati syahid. Disebutkan dalam kitab Ihya Ulumuddin, bahwa Nabi SAW bersabda, Jika seseorang tidur (dalam keadaan) berwudlu maka ia naik dengan ruhnya ke Arasy dan jika ia bermimpi maka mimpinya adalah mimpi yang benar. Jika tidurnya tidak (dalam keadaan) berwudlu maka ruhnya tidak akan sampai ke arasy dan mimpi-mimpinya adalah mimpi yang tidak benar.

(وقال صلى الله عليه وسلم: النَّائَمُ الطَّاهِرُ كَالصائِمِ القَائِمِ) أي المصلي في الليل، أي في حصول الأجر، وإن اختلف المقدار رواه الحكيم الترمذي عن عمر بن حريث. وإسناده ضعيف كذا في السراج المنير.

Rasulullah SAW bersabda, Orang tidur dalam keadaan suci seperti orang puasa yang melakukan sholat di malam hari, sama-sama mendapatkan pahala walaupun ukurannya jelas berbeda. HR. Hakim dan Turmuzhi dari Amr bin Harits. Sanadnya dloif (as-Sirojul Munir).

Rasulullah SAW juga bersabda, “Barangsiapa dalam keadaan suci ia berwudlu (lagi) maka Allah akan memberinya sepuluh kebaikan”. (HR. Abu Dawud, At-Turmuzhi dan Ibnu Majah dari Ibnu Umar). Kata at-Turmuzhi, ini adalah hadits dloif. Sabda Rasulullah SAW lagi, “Tidak sah sholatnya orang yang tidak berwudlu dan tidak (sempurna) wudlunya orang yang tidak membaca basmalah”. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Hakim dari Abu Huroiroh. Sedangkan Ibnu Majah meriwayatkannya dari Said bin Zaid). Dalam riwayat al-Bukhori, Muslim, Abu Dawud, at-Turmuzhi dan Ibnu Maajah dari Abu Huroiroh disebutkan, “Allah tidak akan menerima sholat seseorang yang berhadats sampai ia mau berwudlu[1]”.

Rasulullah SAW bersabda, “Wudlu adalah separuhnya iman”. (HR. Ibnu Abi Syaibah dari Hassan bin Athiyah). Dalam riwayat lain disebutkan, “Bersuci adalah separuhnya iman”. Demikian ini karena iman bisa mencuci najis bathiniyah, sedangkan wudlu mampu menghilangkan najis dzohiriyah.

(وقال صلى الله عليه وسلم: صبغة الوضوء) بكسر الصاد وسكون الموحدة ثم الغين أي أصل الوضوء (مرَّة) أي واحدة في كل عضو (فَمَنْ تَوَضَّأَ مَرَّتَيْنِ كانَ لَهُ كِفْلان) بكسر الكاف أي ضعفان (مِنَ الأجْرِ وَمَنْ تَوَضَّأَ ثلاثا فَهُوَ) أي الوضوء المكرر ثلاثا (وُضُوءُ الأنْبِيَاء مِنْ قَبْلِي) وفي الأحياء: وتوضأ صلى الله عليه وسلم مرة مرة وقال: «هذَا وُضُوءٌ لا يَقْبَلُ الله الصَّلاَةَ إلاَّ بهِ، وتوضأ مرتين مرتين وقال: مَنْ تَوضَّأ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ آتاهُ الله أَجْرَهُ مَرَّتَيْنِ وتوضأ ثلاثا ثلاثا وقال: هذا وُضُوئِي وَوُضوءُ الأنبياءِ مِنْ قَبْلِي، وَوُضُوءُ خَلِيلِ الرَّحْمنِ إبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلامُ»

Rasulullah SAW bersabda, Aslinya (pokoknya) wudlu itu satu kali (basuhan/usapan pada setiap anggota wudlu), barangsiapa berwudlu (membasuh/mengusap anggota wudlunya) dua kali maka pahalanya dua kali lipat dan barangsiapa berwudlu (dengan membasuh/mengusap anggota wudlu) sampai tiga kali maka wudlu seperti ini adalah wudlunya para nabi-nabi sebelumku”. Disebutkan dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Rasulullah SAW berwudlu satu kali – satu kali, kemudian beliau bersabda, “wudlu ini adalah wudlu di mana Allah tidak menerima sholat seseorang kecuali hanya dengan wudlu (ini)”.  Rasulullah SAW berwudlu dua kali – dua kali, kemudian beliau bersabda, “barangsiapa berwudlu dua kali-dua kali maka Allah memberinya pahala dua kali. Rasulullah SAW berwudlu tiga kali – tiga kali, kemudian beliau bersabda, “ini adalah wudluku dan wudlu nabi-nabi sebelumku juga wudlu Nabi Ibrohim kekasih Allah AS.”.

 (وقَالَ صلى الله عليه وسلم: الوُضُوءُ عَلَى الوُضُوءِ نُورٌ عَلى نُورٍ) أي تجديد الوضوء حسنة على حسنة قال ابن حجر: هو مسند رزين رحمه الله، ولم يطلع عليه المنذري كذا في البدر المنير للشيخ عبد الوهاب بن أحمد الأنصاري. وفي الأحياء قال صلى الله عليه وسلم: «مَنْ تَوَضَّأ فَأَحْسَنَ الوُضُوءَ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُحَدِّثْ نَفْسَهُ فِيهِمَا بِشَيْءٍ مِنَ الدُّنْيَا، خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ»، وفي لفظ آخر: «وَلَمْ يَسْفُهْ فِيهِمَا غُفِرَ لَهُ ما تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ».

Rasulullah SAW bersabda, “wudlu di atas wudlu adalah cahaya di atas cahaya”. Artinya, memperbarui wudlu itu kebaikan di atas kebaikan. Di dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin disebutkan, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berwudlu kemudian membaguskan wudlunya lalu dia sholat dua rokaat sebelum ia berkata-kata sesuatupun tentang dunia, maka ia keluar dari dosa-dosanya seperti anak yang baru dilahirkan oleh ibunya”. Pada lafadz lain, “sebelum ia bercakap-cakap, maka dosa-dosanya yang telah lalu di ampuni oleh Allah. Waallohu a’lam bis showab.


[1] Artinya, orang yang sholat sedangkan ia berhadats maka Allah tidak akan menerima sholatnya, sampai ia mau berwudlu dulu baru melakukan sholat, maka Allah akan menerima sholatnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel