Tata Cara Sholat Istisqo


Sebelum mengerjakan shalat Istisqo’, hendaknya ada orang yang memerintahkan kepada para penduduk agar berpuasa tiga hari, selama berpuasa dianjurkan supaya bertaubat, memperbanyak sedekah, memperbanyak amal kebajikan, menjauhi segala kemaksiatan dan mohon ampun kepada Alloh SWT.

Setelah pelaksanaan berpuasa selesai, pada hari keempat, semua penduduk keluar menuju lapangan dengan pakaian sederhana tanpa pewangi sambil menggiring semua binatang ternak. Binatang ternak semua dikeluarkan di ikat di sekitar lapangan, kemudian mengerjakan shalat Istisqo’ secara berjamaah.

Cara Sholat Istisqo’ adalah sebagai berikut ;

Cara pelaksanaan shalat istsqa sama dengan cara pelaksanaan shalat id, yaitu dengan melakukan takbir 7 kali pada rakaat pertama, dan 5 kali pada rakaat kedua dengan mengangkat kedua tangan setinggi bahu, seperti saat takbirotul Ihrom, dan setelah itu dilakukan 2 khutbah.

a.   Sebelum sholat, jamaah dapat diingatkan dengan menyerukan kalimat, ”Ash-shalatu jaami'ah.”
b.   Takbirotul Ihrom seraya berniat sholat istisqo’ di dalam hati, berikut ini adalah lafadz niatnya :

اُصَلِّى سُنَّةَ اْلِاسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مَأمُوْمًا/ إِمَامًا لِلَّهِ تَعَالَى

Artinya: “Aku (niat) shalat sunat istisqo’ 2 rakaat, mengikuti imam/ menjadi imam karena Alloh Ta’ala”.
c.   Membaca do’a iftitah, dilanjutkan membaca surat al-Fatihah, lalu membaca surat
d. Surat yang dibaca boleh surat apa saja yang dikehendaki, akan tetapi sebaiknya pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah membaca surat Al-a’laa, dan pada rakaat kedua setelah Al-Fatihah membaca surat Al-Ghosyiyah. Bacaan ini di jaharkan, seperti pada shalat Id.

Di bawah ini adalah surat al-A’la dan surat al-Ghosyiyah :

سورة الأعلى
بسم الله الرحمن الرحيم(0) سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى (1) الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى (2) وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى (3) وَالَّذِي أَخْرَجَ الْمَرْعَى (4) فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَى (5) سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسَى (6) إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفَى (7) وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَى (8) فَذَكِّرْ إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَى (9) سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَى (10) وَيَتَجَنَّبُهَا الْأَشْقَى (11) الَّذِي يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرَى (12) ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَى (13) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى (14) وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى (15) بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (17) إِنَّ هَذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَى (18) صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى (19)

سورة الغاشية
بسم الله الرحمن الرحيم (0) هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ (1) وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ (2) عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ (3) تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً (4) تُسْقَى مِنْ عَيْنٍ آَنِيَةٍ (5) لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلَّا مِنْ ضَرِيعٍ (6) لَا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ (7) وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاعِمَةٌ (8) لِسَعْيِهَا رَاضِيَةٌ (9) فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ (10) لَا تَسْمَعُ فِيهَا لَاغِيَةً (11) فِيهَا عَيْنٌ جَارِيَةٌ (12) فِيهَا سُرُرٌ مَرْفُوعَةٌ (13) وَأَكْوَابٌ مَوْضُوعَةٌ (14) وَنَمَارِقُ مَصْفُوفَةٌ (15) وَزَرَابِيُّ مَبْثُوثَةٌ (16) أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17) وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ (18) وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (19) وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ (20) فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ (21) لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُسَيْطِرٍ (22) إِلَّا مَنْ تَوَلَّى وَكَفَرَ (23) فَيُعَذِّبُهُ اللَّهُ الْعَذَابَ الْأَكْبَرَ (24) إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ (25) ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ (26)

e. Setelah salam, kemudian khotib berkhutbah dengan dua khtbah. Pada khutbah awal khotib membaca istighfar Sembilan kali, dan membaca istighfar tujuh kali pada khutbah yang kedua.
f.  Kemudian ketika berdoa pada khotbah yang kedua, khotib menghadap ke kiblat membelakangi ma’mum sambil berdoa bersama-sama dengan suara yang lantang memohon agar Alloh segera menurunkan hujan. Khotib juga disunnahkan memakai selendang (sorban), sewaktu  berdoa khotib di anjurkan memindah-kan selendang (sorban) nya, yang semula di sebelah kanan dipindahkan ke sebelah kiri.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel