Tanqihul Qoul ; Bab 5. Keutamaan Iman


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين والعاقبة للمتقين ولا عدوان إلا على الظالمين والصلاة والسلام على خير خلقه محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Sebelumnya perlu dimengerti bahwa kali ini kita akan ngaji bareng kitab karangan ulama' NUsantara- Syaikh Nawawi Banten -, yaitu TANQIHUL QOUL HATSITS Syarah Kitab LUBABUL HADITS Karangan Syaikh Jalaluddin as-Suyuthi. Pengajian ini akan  saya bagi menjadi 40 bab, sebagaimana kitab aslinya.

Kitab matannya seperti pernyataan Syaikh Jalaluddin as-Suyuthi adalah kitab yang memuat tentang hadist-hadist Nabi dan perkataan Sahabat yang di riwayatkan dengan benar dan bisa di percaya, dan agar lebih ringkas beliau telah membuang beberapa sanadnya.

Sedangkan dalam kitab syarahnya...sesuai pernyataan Syaikh Nawawi Banten, bahwa kitab ini sekalipun di dalamnya ada hadits-hadits dloifnya tapi jangan diabaikan begitu saja, karena ulama sepakat bahwa hadits dloif  masih bisa di pakai untuk Fadloilul A'mal. 


BAB V
KEUTAMAAN IMAN

Iman sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shollallohu alaihi wasallam adalah mengetahui dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan menjalankan dengan anggota badan. Iman saja itu ibarat manusia yang telanjang, tidak berpakaian, tidak punya rasa malu dan tidak berilmu, seperti sabda Nabi Muhammad Shollallohu alaihi wasallam “Iman itu telanjang, pakaiannya taqwa, perhiasannya rasa malu[1] dan buahnya adalah ilmu”.

Nabi Muhammad Shollallohu alaihi wasallam juga bersabda: “Tidak ada iman (sempurna) bagi orang yang tidak bisa dipercaya”. Artinya, Pembohong, pendusta itu tidak memiliki iman sempurna. Hal ini bisa dimengerti, orang yang beriman- percaya penuh kepada Allah ia tidak akan takut kepada Allah dengan cara menjahui segala bentuk kema’siatan, di antaranya adalah “berbohong”.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam pun bersabda berkenaan dengan cirikhas orang yang percayah penuh kepada Allah a : “Tidaklah salah satu dari kalian semua itu beriman (sempurna) sehingga ia bisa mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk diri sendiri”. Sabda Rasulullah lagi ;

وقال صلى الله عليه وسلم: الإيمانُ في صَدْرِ المُؤْمِنِ، ولا يَتِمُّ الإيمانُ إلاَّ بِتَمَامِ الفَرَائِض وَالسُّنَنِ، وَلاَ يَفْسُدُ الإيمانُ إلاَّ بِجُحُودِ الفَرَائِضِ وَالسُّنَنِ، فَمَنْ نَقَصَ فَرِيضَةً بِغَيْرِ جُحُودٍ عُوقِبَ عَلَيْها، وَمَنْ أتَمَّ الفَرَائِضَ وَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ.

Nabi Shollallohu alaihi waallam bersabda : “ Iman itu ada di dalam dada orang mu`min. Iman tidak akan sempurna kecuali dengan melakukan fardlu-fardlu dan sunat-sunat dengan sempurna. Sebaliknya iman tidak akan rusak kecuali dengan mengingkari fardlu-fardlu dan sunat-sunat. Barang siapa mengurangi satu fardlu tanpa inkar maka dia akan disiksa karena hal tersebut. Barang siapa menyempurnakan fardlu-fardlu maka wajib baginya surga”.

وقال صلى الله عليه وسلم: الإيمانُ لا يَزِيدُ وَلا يَنْقُصُ وَلِكنْ لَهُ حَدٌّ، أي تعريف بذكر أفراد فروع الإيمان، فإنْ نَقَصَ فَفِيْ حَدِّه. وَأَصْلُهُ شَهَادَةُ أنْ لا إلهَ إلاَّ الله وَحْدُهُ لا شَرِيكَ لَهُ وأنَّ مُحَمَّدا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وإقَامُ الصَّلاةِ، وإيتَاءُ الزَّكَاةِ، وَصَوْمُ رَمَضَانَ، والحَجُّ، وَغَسْلُ الجَنَابَةِ، فَمَنْ زَاد في حَدِّهِ زَادَتْ حَسَنَاتُهُ، وَمَنْ نَقَصَ فِيهِ فَفِيه.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang, akan tetapi iman ada batasnya dan batasan-batasan iman itu bisa diketahui melalui cabang – cabangnya. Maka jika (dikatakan) iman berkurang, berarti karena iman itu (kurang) dari batasanya. Intinya (pokoknya) iman adalah bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya, Nabi Muhammad itu hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa ramadhan, naik haji, dan mandi janabah. Jadi barang siapa (amaliahnya) melebihi batasan (pokoknya) iman, maka berarti pula kebaikannya bertambah. Dan barang siapa (amaliah) imannya kurang (dari batasan pokoknya), berarti imannya berkurang dari batasannya”.

Menurut Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab an-Niqoyah, Orang yang sempurna imannya adalah orang yang memenuhi cabang-cabang iman dengan sempurna, kalau ada cabang satu saja yang tidak ia penuhi maka imannya belum sempurna. Para ulama salaf sepakat, bahwa iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang.

Sayyidis Syaikh Abdul Qodir al-Jilani, Saya yaqin, sesungguhnya iman itu adalah pengakuan dengan mulut, keyakinan dalam hati dan perbuatan anggota badan. Iman bisa bertambah dengan ketaatan, bisa berkurang dengan kema’siatan. Iman pun bisa kuat dengan ilmu dan bisa lemah dengan kebodohan, Iman ini bisa terwujud dengan taufiq (pertolongan Allah).

Sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas, Abu Hurairah dan Abi Darda’, mereka berkata, “Iman itu bisa bertambah dan berkurang. Iman bisa bertambah jika seseorang sudah nyata-nyata melakukan perintah-perintah Allah dan menjahui larangan-larangan-Nya, menerima taqdir, tidak menentang apapun perbuatan Allah terhadap hamba-hambanya, tidak ragu terhadap janji Allah dalam urusan rizki, tawakkal, keluar dari daya dan upaya, sabar menghadapi bala’, bersyukur atas ni’mat-ni’mat Allah, bersih dan tidak berfikiran buruk terhadap Allah pada semua hal. Hanya melakukan sholat dan berpuasa saja tidak bisa menambah iman seseorang.

Sedangkan menurut Imam Ghozali, Amal itu bukan bagian dari iman juga tidak merupakan arkan dari keberadaannya. Tapi amal kebaikan yang bertambah  bisa menambah iman. Sebab dzat sesuatu tidak bisa bertambah, contoh, sholat dinilai bertambah bukan dengan penambahan rukuk dan sujudnya, tapi dengan penambahan khusyu’ dan kesunahan-kesunahannya. Ini menjelaskan bahwa iman itu nyata ada dulu, setelah iman nyata ada baru keadannya bisa berbeda-beda, bisa tambah bisa kurang. Wa allahu a’lam bis showab.

وقال صلى الله عليه وسلم: الإيمانُ نِصْفَانِ، فَنِصْفٌ في الصَّبْرِ، وَنِصفٌ في الشُّكْرِ. وقال صلى الله عليه وسلم: الإيمانُ قَيْدُ الفَتْكِ لا يَفْتكُ مُؤْمِنٌ.

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Iman itu ada dua bagian, satu bagian dalam sabar (meninggalkan ma’siat) dan satu bagian dalam syukur (dalam melakukan ketaatan kepada Allah SWT)”. Sabda Nabi Shollallohu alaihi wasallam lagi : “Iman itu kendali perbuatan fatk, seseorang yang beriman (kepada Allah) tidak akan berbuat fatk[2]”.

وقال صلى الله عليه وسلم: خَلَقَ الله الإيمَانَ وَحَفَّهُ وَمَدَحَهُ بالسَّمَاحَةِ وَالحَيَاءِ، وَخَلَقَ الله الكُفْرَ وَذَمَّهُ بالبُخْلِ وَالجَفَاءِ. وقال صلى الله عليه وسلم: إذَا دَخَلَ أهْلُ الجَنَّةِ الجَنَّةَ، وَأَهْلُ النَّارِ النَّارَ، أمَرَ الله تَعَالَى بأنْ يَخْرُجَ مِنَ النارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنَ الإيْمَانِ

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda lagi : “Allah menciptakan iman dan menghiasinya juga memujinya dengan murah hati dan rasa malu dan Allah menciptakan kufur dan mencelanya dengan bakhil dan durhaka”. Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda : “Ketika penghuni surga telah masuk ke surga dan penghuni neraka telah masuk keneraka, Allah ta'ala memerintahkan agar mengeluarkan dari neraka orang-orang yang di dalam hatinya ada iman walaupun hanya sebesar atom”.

Wa allohu a’lamu bis showab.


[1] Malu melakukan kema’siatan dana tau larangan-larangan Allah SWT.
[2] Fatk artinya pembunuhan yang dilakukan di daerah damai. Maksud hadits “seseorang yang beriman (kepada Allah) tidak akan berbuat fatk” adalah, jika orang beriman melakukan kejahatan fatk maka kejahatan itu tentu dilakukan dalam kondisi dia lalai dari iman (tidak ada iman di hatinya), meskipun iman bisa ada lagi setelah dia melakukan kejahatan fatk itu.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel