Mengenal Umar Bin Khotthab Lebih Dekat


Beliau adalah khalifah kedua sesudah Abu Bakar, dan termasuk salah seorang yang sangat dikasihi oleh Nabi Muhammad Saw semasa hidupnya. Sebelum memeluk Islam, beliau merupakan musuh yang paling ditakuti oleh kaum Muslimin. Namun semenjak ia bersyahadat dihadapan Rasul (tahun keenam sesudah Muhammad diangkat sebagai Nabi Allah), ia menjadi salah satu benteng Islam yang mampu menyurutkan perlawanan kaum Quraisy terhadap diri Nabi dan sahabat.

Di zaman kekhalifahannya, Islam berkembang seluas-luasnya dari Timur hingga ke Barat, kerajaan Persia dan Romawi Timur dapat ditaklukannya dalam waktu hanya satu tahun. Beliau meninggal dalam umur 64 tahun karena dibunuh, dikuburkan berdekatan dengan Abu Bakar dan Rasulullah dibekas rumah Aisyah yang sekarang terletak di dalam masjid Nabawi di Madinah.

Umar dilahirkan (581-November 644) di kota Mekkah dari suku Bani Adi, salah satu rumpun suku Quraisy, suku terbesar di kota Mekkah saat itu. Ayahnya bernama Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza Al Shimh Al Quraisyi dan ibunya Hantamah binti Hasyim, dari marga Bani Makhzum. Umar memiliki julukan yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW yaitu Al-Faruq yang berarti orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.

Keluarga Umar tergolong dalam keluarga kelas menengah, ia bisa membaca dan menulis, yang pada masa itu merupakan sesuatu yang langka. Umar juga dikenal karena fisiknya yang kuat dimana ia menjadi juara gulat di Mekkah.

Sebelum memeluk Islam, Umar adalah orang yang sangat disegani dan dihormati oleh penduduk Mekkah, sebagaimana tradisi yang dijalankan oleh kaum jahiliyah Mekkah saat itu, Umar juga mengubur putrinya hidup-hidup sebagai bagian dari pelaksanaan adat Mekkah yang masih barbar. Setelah memeluk Islam di bawah Nabi Muhammad SAW, Umar dikabarkan menyesali perbuatannya dan menyadari kebodohannya saat itu sebagaimana diriwayatkan dalam satu hadits "Aku menangis ketika menggali kubur untuk putriku. Dia maju dan kemudian menyisir janggutku".

Umar juga dikenal sebagai seorang peminum berat, beberapa catatan mengatakan bahwa pada masa pra-Islam, Umar suka meminum anggur. Setelah menjadi seorang Muslim, ia tidak menyentuh alkohol sama sekali, meskipun belum diturunkan larangan meminum khamar (yang memabukkan) secara tegas.

Diriwiyatkan dari said ibnu Al-Musayyab bahwa Abu Hurairah berkata,"Ketika kami berada di sisi Rasulullah, tiba-tiba beliau berkata: "Sewaktu tidur aku bermimpi seolah-olah aku berada di surga. kemudian aku melihat seorang wanita berwudhu di samping sebuah istana, maka aku bertanya, "Milik siapa istana ini?" Mereka menjawab,"Milik Umar." maka aku teringat akan kecemburuan Umar, segera aku manjauhi istana itu." Umar menangis dan berkata,"Demi Allah, mana mungkin aku akan cemburu padamu wahai Rasulullah?".


Diwirayatkan Anas bin malik ia berkata, rasulullah menaiki gunung Uhud beserta Abu Bakar, Umar dan Utsman. Maka tiba-tiba gunung itu berguncang, segera Rasulullah memukulkan kakinya dan berkata: "Diamlah wahai uhud sesungguhnya di atasmu hanyalah seorang Nabi, shiddiq dan dua orang syahid."

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Mulaikah dia pernah mendengar Abdullah bin Abbas berkata,"umar ditidurkan diatas kasurnya, sementara manusia berada di sekelilingnya mendoakan dirinya sebelum diangkat ketika itu aku hadir di antara mereka aku terkejut ketika seseorang memegang kedua pundakku dan ternyata ia adalah Ali bin Abi Thalib. Ali mengucapkan doa untuk Umar semoga dirahmati Allah, kemudia Ali berkata,"Engkau tidak pernah meninggalkan seorang yang dapat menyamai dirimu dan karya yang engkau hasilkan. Aku berharap dapat menjadi seperti dirimu ketikan akan menghadap Allah. Demi Allah aku merasa yakin bahwa Allah akan mengumpulkanmu dengan kedua sahabatmu (Rasulullah dan Abu bakar) aku banyak mendengar Rasulullah bersabda: "Aku berangkat bersama Abu Bakar dan Umar, aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar, aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar"

Diriwayatkan dari Muhammad bin Sa'ad bin Abi Waqqash dari ayahnya ia berkata,"Umar bin Khottob memohon agar diizinkan masuk ke rumah Rasulullah ketika itu ada beberapa orang wanita dari Quraisy sedang berbincang-bincang dengan Rasulullah dan mereka berbicara dengan nada suara yang keras melebihi suara Rasulullah. Ketika Umar Masuk ke rumah Rasulullah sementara Rasulullah tertawa. Umar bertanya,"Apa yang membuat anda tertawa wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab, "Aku heran terhadap wanita-wanita yang berada di sisiku ini, ketika mereka mendengar suaramu, segera mereka berdiri manarik hijab." Umar berkata "Sebenarnya engkau yang lebih layak mereka segani Wahai Rasulullah," Kemudian Umar berbiacara kepada mereka, "Wahai para wanita yang menjadi musuh bagi nafsunya sendiri, bagaimana kalian segan terhadap diriku dan tidak segan terhadap Rasulullah?" Mereka Menjawab,"Ya, sebab engkau lebih keras dan lebih kasar daripada Rasulullah." Rasulullah bersabda,"Wahai Ibnul Khottob, demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman tangannya, sesungguhnya tidaklah setan menemuimu sedang berjalan disuatu jalan kecuali dia akan mencari jalan lain yang tidak kau lalui. Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah pernah bersabda, "Sesungguhnya setan lari ketakutan jika bertemu Umar."[1]

Istri-Istri dan Anak-Anak Beliau

Al-Waqidi, al-Kalbi dan lainnya pernah berkata,"Pada masa jahiliyyah Umar pernah menikahi Zainab binti Mazh'un saudara wanita dari utsman bin Mazh'un, dari perkawinan tersebut lahirlah Abdullah, Abdurrahman yang sulung, serta Hafshah.

Beliau juga pernah menikahi Mulaikah binti Jarwal, dari hasil perkawinan tersebut lahirlah Ubaidullah. Setelah itu beliau menceraikannya ketika terjadi hudnah (perdamaian). setelah di cerai wanita tersebut dinikahi oleh Abu Jahm bin Hudzaifah, sebagaimana yang di katakan oleh al-Madaini.

Al-Waqidi berakata," Wanita ini bernama ummu Kaltsum binti jarwal, dari hasil pernikahan ini lahirlah Ubaidillah dan Zaid yang bungsu."

Al-Madaini berakata,"Umar pernah menikahi Quraibah binti Abi Umayyah al-Makhzumi, sewaktu terjadi hudnah(perdamaian) Umar menceraikannya, setelah itu wanita ini dinikahi oleh Abdurrahman bin Abu Bakar."

Mereka berkata,"Umar juga menikahi Ummu Hakim binti al-Harits bin Hisyam setelah suaminya yakni Ikrimah bin Abu Jahal terbunuh dalam peperangan di negeri syam. Dari hasil penikahan ini lahirlah Fathimah. Kemudian Umar menceraikannya."Al-madaini berkata,"Umar tidak menceraikannya."

Mereka berkata,"Umar pernah pula menikahi Jamilah binti Ashim bin Tsabit bin Abi al-Aqlah dari suku Aus."

Umar juga mneikahi Atikah binti Zaid bin Amr bin Nufail, yang sebelumnya adalah istri Abdullah bin Abu bakar. Setelah umar terbunuh, wanita ini dinikahi oleh az-Zubair bin al-Awwam. Disebutkan bahwa wanita ini adalah ibu dari anaknya yang bernama Iyadh, wallahu a'lam.

Al-Madaini berkata,"Umar pernah meminang Ummu Kaltsum, Puteri Abu Bakar as-Shiddiq ketika itu amsih gadis kecil dalam hal ini Umar mengirim surat kepada Aisyah, namun Ummu Kaltsum berkata,"Aku tidak mau menikah dengannya" Aisyah berkata padanya,"Apakah engkau menolak Amirul Mukminin?" Ummu Kaltsum menjawab,"Ya, sebab hidupnya miskin." AKhirnya Aisyah mengirim surat kepada Amru bin al-Ash, dan Amru berusaha memalingkan keinginan Umar untuk menikahi puteri Abu Bakar dan menyarankan kepadanya agar menikahi Ummu Kaltsum puteri Ali bin Abi Thalib dari hasil penikahannya dengan Fathimah. Amru berkata padanya,"Nikahilah puteri Ali dan hubungkan kekerabatanmu dengan kerabat Rasulullah. "Akhirnya Umar meminang Ummu Kaltsum kepada ALi dan memberikannya mahar sebanyak empat pulur ribu. Dan dari hasil pernikahan ini lahirlah Zaid dan Ruqayyah.

Mereka berkata,"Umar juga menikahi Luhyah seorang wanita yaman dari hasil pernikahan itu lahirlah Abdurrahman yang bungsu, ada yang menyebutkan Abdurrahman yang tengah. Al-Waqidi berkata,"Wanita ini adalah Ummu al-Walad (budak wanita) dan bukan sebagai istri. Ada yang menyebutkan bahwa umar juga memiliki Fukaihah sebagai Ummu Walad yang melahirkan anaknya bernama Zainab. Al-Waqidi berkata,"Zainab adalah anak Umar yang paling kecil."

Ibnu Katsir berkata,"Jumlah seluruh anak umar adalah tiga belas orang, yaitu, Zaid yang sulung, Zaid yang bungsu, Ashim, Abdullah, Abdurrahman yang sulung, Abdurrahman yang pertengahan, Az-zubair bin Bakkar, yaitu Abu Syahmah, Abdurrahman yang bungsu, Ubaidullah, Iyadh, Hafsah, RUqayyah, Zainab, Fathimah. Jumlah seluruh istri Umar yang pernah dinikahi pada masa Jahiliyyah dan Islam baik yang diceraikan ataupun yang ditinggal wafat sebanyak tujuh orang.[2]


[1] Lihat al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir
[2] Umaribnkhattab.blogspot.com
 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel