Mengenal Abu Bakar Lebih Dekat


Beliau adalah seorang laki-laki pertama yang masuk Islam, beliau juga khalifah pertama setelah wafatnya Rasulullah saw.

Pengorbanan dan keberanian beliau tercatat dalam sejarah, bahkan juga dalam al-Quran (Surah At-Taubah ayat 40) sebagaimana berikut: “Jikalau tidak menolongnya(Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seseorang dari dua orang (Rasulullah dan Abu Bakar) ketika keduanya berada dalam gua, diwaktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Beliau dilahirkan dua tahun beberapa bulan setelah lahirnya Rasulullah SAW, beliau tumbuh di kota Makkah, dan beliau tidak meninggalkan kota tempat tinggalnya kecuali untuk tujuan berdagang. Beliau adalah termasuk orang terpandang dari suku Quraisy, dan ahlu syura diantara mereka pada zaman jahiliyah. Beliau juga terkenal sebagai orang yang meninggalkan khomr pada masa jahiliyah, ketika beliau ditanya, Apakah engkau pernah minum khomr dimasa jahiliyah? beliau menjawab : A’udzubillah (aku berlindung kepada Allah), kemudian beliau ditanya lagi, ‘Kenapa?’, beliau menjawab : aku menjaga dan memelihara muru’ahku (kehormatanku), apabila aku minum khomr maka hal itu akan menghilangkan kehormatan dan muru’ahku.[1]

Ibnu Sa’d dari Aisya, bahwa saat Aisyah di mintai keterangan oleh seorang laki-laki tentang keadaan dan perawakan ayahnya, Aisyah menjelaskan, “Beliau berkulit putih, kurus, tipis kedua pelipisnya, kecil pinggangnya (sehingga kainnya selalu turun dari pinggangnya), wajahnya selalu berkeringat, hitam warna matanya, berkening lebar, tidak bisa bersaja’ dan selalu mewarnai jenggotnya dengan innai maupun katam.”[2]

Para ulama’ sepakat tentang gelar ‘Ash-Shiddiq’ yang diberikan kepada beliau, karena beliau selalu membenarkan apa yang diberitakan oleh rasulullah SAW’. Bahkan sebelum orang lain mempercayai tentang peristiwa Isro’ dan Mi’roj, Beliau-lah yang pertama kali menyatakan kepercayaannya akan kebenaran peristiwa itu.

Selain gelar Ash-shiddiq, beliau juga mempunyai gelar Atiq, karena beliau adalah orang yang di bebaskan oleh Allah dari api neraka, sebagaimana disebutkan dalam kitab Tarikh at-Thobari. Dari Harits dari Ibnu Sa’d dari Muhammad bin Umar dari Ishaq bin Yahya bin Tholhah dari Mu’awiyah bin Ishaq dari Bapaknya dari Aisyah RA. “Aisyah pernah di tanyai tentang latar belakang gelar Atiq pada diri Abu Bakar. Aisyah menjawab “Pada suatu hari Rosulullah SAW memandanginya seraya berkata “Hadzaa Atiqullahi minan-Nar” (Dia adalah orang yang di bebaskan oleh Allah dari Api Neraka).

Abu Bakar ash-Shiddiq adalah Abdullah bin Utsman (Abu Quhafah) bin Amir bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib bin Fihr al-Quraisy at-Taimi. Bertemu nasabnya dengan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam pada kakeknya Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai, kakek yang keenam. Dan ibunya adalah Ummu al-Khair binti Shakhr bin Amir bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murroh.[3]

Abu Bakar meninggal dunia pada malam selasa, tepatnya antara waktu maghrib dan isya pada tanggal 8 Jumadil awal 13 H. Usia beliau ketika meninggal dunia adalah 63 tahun. Beliau berwasiat agar jenazahnya dimandikan oleh Asma` binti Umais, istri beliau. Kemudian beliau dimakamkan di samping makam Rasulullah. Umar mensholati jenazahnya diantara makam Nabi dan mimbar (ar-Raudhah) . Sedangkan yang turun langsung ke dalam liang lahat adalah putranya yang bernama Abdurrahman (bin Abi Bakar), Umar, Utsman, dan Tholhah bin Ubaidillah.

Abu Bakar meninggal dunia, sementara barisan depan pasukan Islam sedang mengancam Palestina, Irak, dan kerajaan Hirah. Ia diganti oleh "tangan kanan"nya, Umar ibn Khattab. Ketika Abu Bakar sakit dan merasa ajalnya sudah dekat, ia bermusyawarah dengan para pemuka sahabat, kemudian mengangkat Umar sebagai penggantinya dengan maksud untuk mencegah kemungkinan terjadinya perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam.

Kebijaksanaan Abu Bakar tersebut ternyata diterima masyarakat yang segera secara beramai-ramai membaiat Umar. Umar menyebut dirinya Khalifah Rasulillah (pengganti dari Rasulullah). Ia juga memperkenalkan istilah Amir al-Mu'minin (Komandan orang-orang yang beriman).

[1] Tarikhul Khulafa’. Abdur Rohman bin Abu Bakar as-Suyuthi hal 34
[2] Tarikhul Khulafa’. Abdur Rohman bin Abu Bakar as-Suyuthi hal 35
[3] Tarikh at-Thobari. Muhammad bin Jarir at-Thobari. II,350

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel