KH. Miftahul Ahyar; NU Perlu ada Pembaruan


Dalam pembukaan kegiatan PPWK (Pendidikan Pengembangan Wawasan Keulamaan) dauroh II, yang di adakan di Pusdiklat Depnaker Jakarta Timur oleh PB Lakpesdam Nahdlotul Ulama’ , kiyai Miftah Rois Am PBNU menyampaikan tentang hal-hal yang harus dipenuhi oleh Rois Am, seperti alim, wira’i, zuhud dan organisatoris.

“Kalau kata kiyai Ma’ruf itu “shohibul maqom”, tandas kiyai Miftah Rois Am PBNU pengganti Kiyai Ma’ruf Amin.

Sekarang ini, usia NU sudah 92 tahun, jadi usianya hamper seabad, Usia super dewasa dan matang. Kalau Islam setiap 100 tahun selalu lahir mujaddid, maka NU juga hendaknya seperti itu butuh pembaruan, seperti kata Kiyai Miftah, sebelum sampai usia seabad ini, NU perlu mempersiapkan apa saja yang harus dilakukan, dan perubahan apa saja yang diperlukan sehingga NU bisa semakin baik dan lebih bermanfaat kehidupan warganya dan masyarakat secara umum.

“ini hanya usulan, dalam menghadapi seabad kelahirannya, NU butuh pembaruan juga sebagaimana agama Islam, kalua saya simpulkan”, lanjut Kiyai Miftah, “perlu grand desine, grand strategi dan grand control”. Pungkasnya.

Selain itu Kiyai Miftah juga mengungkapkan bahwa NU sekarang ini butuh orang-orang yang berani berjihad dan orang-orang yang mampu berijtihad, “jihad dan ijtihad”. Kata ini sangat singkat dan sederhana, tetapi pemahamannya sangat luas dan sulit untuk di lakukan, tetapi harus selalu di usahakan.

“Jihad artinya mencurahkan kekuatan/kemampuan dengan maksimal untuk mencapai tujuan yang besar, sepert ketaatan kepada Allah, nurut dan tunduk terhadap perintah-perintahnya. Sedangkan Ijtihad maksudnya, pemimpin NU harusnya orang yang mampu merespon dengan benar dan bijak terhadap isu-isu dan kejadian-kejadian yang timbul sekarang ini baik yang local maupun yang gelobal”, ungkapnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel