Kiyai dan Politik Praktis



Dulu saya hanya tersenyum kalau mendengar seseorang berseloroh “politik itu kotor”. Karena selorohan itu seperti menjastis bahwa setiap orang yang berpolitik telah biasa melakukan perilaku-perilaku kotor bin negative dengan sadar dzohiran wa bathinan, yang penting terpilih atau asal partainya mendapatkan suara banyak.

Ada juga yang berseloroh “akademisi tidak boleh salah dan tidak boleh berbohong, sedangkan politisi, ia tidak boleh salah namun boleh berbohong”. Selorohan ini semakin memberi cat hitam pada panggung politik dan gerak-gerik politisi. Sehingga ada sebagian warga masyarakat yang menjadi alergi (baca: antipati) terhadap politik wa maa yata’allaqu biha.

Imbasnya tidak sedikit warga masyarakat yang mencemooh seorang kiyai-ulama’ yang terjun di dunia politik, seloroh mereka “kiyai iku ngajar ngaji ora usah melu-melu urusan politik”, “kiyai kok berpolitik, kiyai ora nggenah iku” atau “selamatkan kiyai kita dengan tidak mencoblosnya”. Selorohan-selorohan seperti itu, pada esensinya adalah usaha pengkerdilan peran kiyai dan ulama’ di tengah-tengah umatnya.

Padahal, kalau dicermati dengan dalam, kebijakan-kebijakan pemerintah yang menyangkut hajat hidup orang banyak, sangat butuh orang-orang cakap yang mempunyai komitmen moral tinggi dan mempunyai latar belakang agama yang memadai, karena diakui atau tidak, panggung politik sangat sarat dengan ujian dan cobaan.

Dalam khazanah sejarah Islam, Rasulullah SAW dan Khulafaur Rosyidin adalah para pemegang kekuasan dalam panggung politik. Rasulullah SAW adalah seorang pemimpin Negara Madinah yang kemudian dilanjutkan oleh sahabat-sahabat beliau, yaitu Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, Sayyidina Ustman dan Sayyidina Ali.

Di Indonesia sendiri, dulu para wali songo juga banyak yang terlibat dalam kancah politik di kerajaan tempat mereka tinggal. Selain mereka mengajar ngaji di surau-surau, di masjid dan di pondok pesantren, mereka juga ikut urun rembuk dan mewarnahi kebijakan-kebijakan yang diambil oleh penguasa pada saat itu, bahkan tidak sedikit dari mereka yang menjadi panglima perang.

Terakhir, setelah saya menjelaskan ini, ada seorang kiyai yang berseloroh di depan saya, “paling…habis manis sepah dibuang”. “Coba terjun ke politik kiyai, mungkin kiyai tidak akan lagi merasa habis manis sepah dibuang”, kata saya. Kiyai itu menjawab, “ya iya, kitanya yang membuang ”. “Ya jangan gee kiyai, entar tidak ada bedanya kiyai sama preman, hehe…”.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel