Menikahlah…!, Raih Kebahagiaan, Berdzikirlah…!, Raih Kebahagiaan

Tertawa atau menari, biasa diartikan sebagai pertanda sebuah kebahagiaan. Padahal kadang itu dilakukan seseorang untuk menciptakan kebahagiaan dalam dirinya, bahkan kadang dilakukan untuk menutupi kesedihan yang sedang melandanya.  Sehingga sebagian orang menyimpulkan, tertawa atau menari bukan berarti pertanda sebuah kebahagiaan, karena menangis juga kadang menandakan kebahagiaan. Terus hal paten apa yang bisa dijadikan acuan sebagai tanda sebuah kebahagiaan?

Bahagia itu ketika ikhlas menolong orang lain, bahagia itu ketika ikhlas menerima opo seng ono, bahagia itu ketika berhasil meraih cita-cita atau mendapatkan sesuatu yang diinginkan, bahagia itu ketika bisa membahagiakan orang lain, bahagia itu…, bahagia itu…., dan bahagia itu…dan lain sebagainya. Ternyata sumber kebahagiaan itu beraneka ragam, tapi keaneka ragaman itu bisa diambil kesimpulannya, bahwa bahagia itu segala hal yang bisa membuat jiwa (hati) tenang atau tenteram. Artinya bahagia itu ketika jiwa atau hati tenteram atau tenang.

Berarti, kebahagiaan adalah ketenangan hati, ketentraman jiwa. Dalam Al-Qur’an surat Ar-Rum 21, disebutkan, bahwa pernikahan itu diharapakan bisa menciptakan kebahagiaan (litaskunuu Ilaiha). mafhumnya jika ada seseorang yang menikah, tetapi belum juga meraih ketenangan hati atau ketenteraman jiwa, berarti ada yang konslet dalam pernikahan itu. Begitupun jika ada seseorang yang gemar berdzikir (dalam arti luas) kepada Allah, tetapi masih belum meraih kebahagiaan (tathma’innul qulub) (QS. Ar-Ra'd: 28), berarti ada yang konslet dalam dzikirnya.

Kemudian muncul dari pikiran saya yang sederhana ini, sebuah kata, “Menikahlah…! Selanjutnya, raih kebahagiaan itu, berdzikirlah…! Lalu raih kebahagiaan itu”.

Tentang dzikrullah dalam arti luas, Insyaalloh kapan-kapan kita bahas bersama. Waallohu a’lamu bis showab.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel