Inilah Sosok Aidit Gembong PKI


Jakarta - Dipa Nusantara Aidit atau DN Aidit selama bertahun-tahun dikenal sebagai Ketua Central Comitte PKI.  Buku-buku sejarah, tak pernah lengkap menuliskan sosok yang kontroversial ini. Bahkan dalam film Pengkhianatan G-30-S PKI, Aidit dikenal sebagai lelaki berwajah dingin dengan bibir yang selalu berlumur asap rokok.  Terbayang kemudian, kalimat yang meluncur seperti dipaparkan dalam film itu: ”Djawa adalah kunci...”; ”Djam D kita adalah pukul empat pagi...”; ”Kita tak boleh terlambat...!”

Itulah Wajah Aidit dalam seluloid tahun 1980 an.  Reka cerita itu dibangun Arifin C Noer, sutradara film dan Syubah Asa, seniman dan wartawan yang memerankan Aidit sebagai petinggi PKI.  Setiap 30 September, film Pengkhianatan G-30-S PKI itu diputar di TVRI begitu film itu selesai dibuat tahun 1984. Lalu dihentikan September 1998, empat bulan setelah Presiden Soeharto lengser dan digantikan BJ Habibie.

Siapa sebenarnya DN Aidi ?  Lahir di Belitung, Sumatera Selatan 30 Juli 1923, D.N. Aidit adalah sulung dari enam bersaudara -- dua di antaranya adik tiri. Ayahnya, Abdullah Aidit adalah keluarga terpandang, seorang mantri kehutanan. Jabatan cukup terpandang di Belitung waktu itu. Ibunya, Mailan, lahir dari keluarga ningrat. 

Seperti dituliskan dalam Edisi Khusus Majalah Tempo terbit 1 Oktober 2007, ayah Mailan-- kakek Aidit-- adalah  seorang tuan tanah. Orang-orang Belitung menyebut luas tanah keluarga ini dengan ujung jari: sejauh jari menunjuk itulah tanah mereka. Adapun Abdullah Aidit adalah anak Haji Ismail, pengusaha ikan yang cukup berhasil. Aidit sendiri dinamai Achmad Aidit.

Murad, adik bungsu Aidit -- dalam wawancaranya dengan TEMPO, 1 Oktober 2007, kakaknya tak terlalu peduli dengan keluarga meski disebut-sebut, Aidit adalah sosok kakak yang melindungi adik-adiknya. Kepada Murad, suatu ketika saat mereka di Jakarta, Aidit pernah mengatakan satu-satunya hal yang mengaitkan mereka berdua adalah mereka berasal dari ibu dan bapak yang sama. Tidak lebih. Dengan kata lain, Achmad tak peduli benar soal ”akar”.

Di Belitung, ia bergaul dengan banyak orang. Ia menjadi bagian dari anak pribumi, tapi juga bergaul dengan pemuda Tionghoa. Simpatinya kepada kaum buruh dimulai dari persahabatannya dengan seorang pekerja Gemeenschapelijke Mijnbouw Billiton, tambang timah di kampung halamannya.

Tapi seorang bekas wartawan Harian Rakjat, koran yang berafiliasi dengan PKI, menangkap kesan lain tentang Aidit.  Aidit, katanya, bukan orang yang mudah didekati. Tegang dan tak ramah. Arifin C Noer, sutradara film itu memotret Aidit sebagai lelaki penuh muslihat, pengiat partai yang dingin, bahkan juga garing. 

Tapi Aidit memang liat berpolitik.  Karir politiknya ditapaki di asrama mahasiswa Menteng 31—sarang aktivis pemuda ”radikal” kala itu. Bersama Wikana dan Sukarni, ia terlibat peristiwa Rengasdengklok—penculikan Soekarno oleh pemuda setelah pemimpin revolusi itu dianggap lamban memproklamasikan kemerdekaan.
Ia terlibat pemberontakan PKI di Madiun, 1948. Usianya baru 25 tahun. Setelah itu, ia raib tak tentu rimba. Sebagian orang mengatakan ia kabur ke Vietnam Utara, sedangkan yang lain mengatakan ia bolak-balik Jakarta-Medan. Dua tahun kemudian, dia ”muncul” kembali.

DN Aidit hanya butuh waktu setahun untuk membesarkan kembali PKI. Ia mengambil alih partai itu dari komunis tua—Alimin dan Tan Ling Djie—pada 1954, dalam Pemilu 1955 partai itu sudah masuk empat pengumpul suara terbesar di Indonesia. PKI mengklaim beranggota 3,5 juta orang. Inilah partai komunis terbesar di dunia setelah Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina.

Dalam kongres partai setahun sebelum pemilu, Aidit berpidato tentang ”jalan baru yang harus ditempuh untuk memenangkan revolusi”. Dipa Nusantara bercita-cita menjadikan Indonesia negara komunis. Ketika partai-partai lain tertatih-tatih dalam regenerasi kader, PKI memunculkan anak-anak belia di tampuk pimpinan partai: D.N. Aidit, 31 tahun, M.H. Lukman (34), Sudisman (34), dan Njoto (27).

Tapi semuanya berakhir pada Oktober 1965, ketika Gerakan 30 September gagal dan pemimpin PKI harus mengakhiri hidup di ujung bedil. DN Aidit sendiri tutup buku dengan cara tragis: tentara menangkapnya di Boyolali, Jawa Tengah, dan ia tewas dalam siraman satu magazin peluru senapan Kalashnikov serdadu.

WIDIARSI AGUSTINA | PUSAT DATA ANALISA TEMPO

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel