G 30 S/PKI 1965 Produk Politik Kekuasaan yang Maha Tega


Terlepas dari pro dan kontra tentang kebenaran kisah G 30 S/PKI 1965 yang telah tersebar dan menempel lekat dalam benak dan pikiran orang-orang Indonesia. Kejadian saat itu adalah sebuah noda atau tai Negara ini. Penumpasan dan pembunuhan massal yang tidak mengenal jenis kelamin dan umur, yang telah terjadi, adalah sejarah kelam bangsa Indonesia, produk politik kekuasaan yang maha tega.

Tragedi kemanusiaan saat itu melahirkan traumatic berkepanjangan, bahkan menular ke orang-orang yang sebenarnya mereka tidak tahu menahu soal itu, sehingga muncul kecurigaan kebangkitan PKI. Penyebabnya adalah informasi yang tidak seimbang berupa cerita-cerita yang menakutkan yang terus menerus, yang intens dikampanyekan, baik lewat buku, film atau dari mulut ke mulut dan lain-lain.

Belum lagi kabar tentang perlakuan tidak manusiawi yang di alami eks PKI atau yang dianggap PKI atau pemencilan yang panjang yang dialami mereka dan anak-turun mereka, jelas bisa berdampak traumatic, ketidak puasan dan berkembang menjadi dendam. Ini juga bisa memicu kekhawatiran dan kecurigaan akan meledaknya dendam kesumat itu.

Apalagi jika kekhawatiran dan kecurigaan itu dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, dengan di bubui bumbu penyedap kemudian dibakar dan di kipas-kipas, maka kecurigaan itu akan mudah berubah menjadi reaksi nyata, seperti kejadian di gedung YLBHI Menteng, Jakarta Pusat. 17/09,

Sekali lagi, bisa jadi kejadian di gedung YLBHI Menteng adalah juga produk politik kekuasaan yang maha tega itu, yang menghalalkan segala cara, tidak peduli perasaan dan nyawa manusia. Kekuasaan, kekuasaan dan kekuasaan adalah tujuan utama para pemuja kekuasaan itu. Pertarungannya berarti pertarungan menuju kekuasaan dan perjuangan mempertahankan kekuasaan.

Pertarungan kekuasaan antarkelompok biasanya tidak dapat dilepaskan dari pencarian legitimasi kemenangan dari massa dengan berbagai macam manuver siasat atas nama kelompok, profesi, bahkan agama. Semua dibangun demi satu citra. Perhatian publik terhadap citra yang dibangun itu menjadi daya tarik sang kompetitor untuk memuluskan jalan kekuasaan.

Para petarung kekuasaan bahkan menjadikan agama sebagai bahan dramatugi. Elaborasi politik dan menjadikan sakralitas agama tereduksi oleh suatu kepentingan tertentu. Ini sangat miris dan memprehatinkan. Untuk itu, butuh perbaikan di sana-sini, lebih-lebih pada moral politiknya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel