Republik Bumimaya

Berita dan kajian Islam NUsantara

KH. Mashum Abror ; Talqin Mayit Dialog Empat Arah


Pada suatu kesempatan KH. Ahmad Ma’shum Abror M.Pd.I mengatakan, bahwa talqin mayit itu mengingatkan orang-orang yang masih hidup, agar mereka tahu kesudahan mereka itu kayak apa, - kafaa bil mauti waa’idzon-.

“kalau mau ngapling sekarang, monggo… gratis”, klakar Gus Ma’shum Rois Suriyah PCNU Pesawaran juga Pengasuh pp. Alhidayat Gerning.

Talqin mayit pada hakekatnya adalah dialog empat arah, ; dialog orang yang mentalqin kepada si-Mayat, para pelayat, dan Alloh SWT. Orang yang mentalqin selain dia ngomongi dirinya sendiri, “sekarang kamu mentalqin, sebentar lagi kamu yang akan ditalqin, berhati-hatilah dalam hidup, takutlah kepada Allah”, juga mengingatkan para pelayat agar kematian yang tampak di hadapannya ini bisa menjadi ibroh, bisa menjadi mauidzoh, pitutur.

Si-Penalqin dengan talqinnya juga memberitahu dan mengingatkan kepada si-mayat tentang pertanyaan munkar dan nakir. Akan ada pertanyaan kubur yang harus ia jawab, oleh karena itu di kasih bocoran dengan harapan agar si-mayat mampu melewati ujian itu. Tidak berhenti sampai disitu, si-Penalqin juga langsung berbicara kepada Alloh memohon agar si-Mayat bisa melalui ujian dari-Nya di dalam kubur dan diselamatkan dari siksa kubur.

“Jadi penting sekali syari’at talqin ini” jelasnya.

Imam Nawawi dalam kitabnya Al-adzkar mengatakan, Bahwa talqinul mayyit ba’dad dafni (talqin setelah mayat di kuburkan) oleh mayoritas ulama’ Syafiiyyah dihukumi istihbab (sunnah). Diantara mereka adalah, Qodli Husain didalam Ta’liq-nya, Abu Sa’ad Almutawalli didalam kitab Titimmah-nya, Assyaikh Al-imam Azzahid Abul Fath Nashr bin Ibrahim bin Nashr Almuqoddasi, Imam Abul Qosim Arrafi’i dan lain-lain, diantaranya Imam Abu Amr bin Sholah dan ulama-ulama’ Syafi’iyyah dari Khurosyan.