Republik Bumimaya

Berita dan kajian Islam NUsantara

Wajarlah dalam Membenci dan Mencintai


Benci adalah suatu keadaan perasaan yang menggambarkan ketidak sukaan, permusuhan, atau antipati. Gara-garanya bisa jadi karena iri, dengki, tidak cocok, sehingga membuat sakit hati. Wajar jika seseorang pernah merasakan kebencian. tetapi jika rasa itu berkepanjangan atau hidupnya hanya berisikan kebencian, ini yang tidak wajar, butuh obat penyembuh benci.

Rasa benci datang karena nafsu, nafsu biasanya hanya berdampak merugikan. Kalau mau berfikir wajar dan positif, justru kebencian hanya akan melukai diri sendiri, semakin membenci semakin menyakiti diri sendiri, kebencian dapat menutup kebahagiaan, atau paling tidak akan membatasi gerak aktifitas dan merenggut good mood.

Apalagi jika kebencian itu berlebihan, ini akan menyesatkan akal pikiran dan sangat mungkin memicu timbulnya gangguan jiwa yang pada akhirnya bisa menjadikan psikosomatik, yaitu penyakit fisik yang disebabkan oleh mental yang tidak sehat.

Begitupun dalam mencintai seseorang, sewajarnya saja, karena setiap yang berlebihan itu bisa membutakan akal, melemahkan daya pikir, merenggut kreativitas, dan membuka ruang perselisihan, membuat kita tidak adil dalam bersikap. Maka cintailah sewajarnya dan bencilah sewajarnya. ” … karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak (QS: An nisa ; ayat 19). Rasulullah bersabda ;

أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًامَا، وأَبْغَضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًامَا

“ Cintailah orang yang kamu cintai sekadarnya. Bisa jadi orang yang sekarang kamu cintai suatu hari nanti kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci sekadarnya, bisa jadi di satu hari nanti dia menjadi orang yang kamu cintai.”(HR. At-Tirmidzi no.1997).


Intinya jangan lebay dalam mencintai atau membenci sesuatu. Wajar dan biasa-biasa saja. Jangan sampai karena teramat membenci, kemudian kebencian itu mendorong berbuat aniaya” [Al Maa-idah 2] “… Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…” [Al Maa-idah 8].