Republik Bumimaya

Berita dan kajian Islam NUsantara

Perbedaan tentang Niat Korban dan Waktunya

Korban tidak sah tanpa adanya niat, karena korban termasuk bentuk ibadah qurbah (ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah). Sesuai dengan sabda Rasulallah SAW dalam hadits yang di riwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim, “Hanyasanya sahnya amal itu tergantung pada niat, dan setiap sesuatu itu tergantung pada niatnya”.

Kemudian kapan niat itu harus di laksanakan? Dalam hal ini, seperti pernyataan dalam kitab al-Majmu’ Syarah Muhazhzhzab (juz 7, hal. 405-406, Maktabah Syamilah), ada dua wajah, 1). Niat korban boleh didahulukan sebagaimana niat puasa dan zakat, 2). Harus bersamaan dengan saat menyembelih hewan Kurban seperti niat sholat dan wudlu.

Di antara dua wajah tersebut yang Ashoch (lebih benar) adalah wajah yang pertama, yaitu, niat boleh didahulukan sebagaimana niat puasa dan zakat. Artinya, jika niat sudah di dahulukan maka ketika menyembelih hewan kurban tidak perlu lagi niat.

Lebih lanjut dalam kitab al-Majmu’ tersebut dituturkan, Seandainya ada orang bilang, “wedus iki tak nggo korban”.  Apakah perkataan itu sudah dapat dianggap ta’yinul udlhiyah (menentukan hewan korban) sekaligus niatnya dan penyembelihannya?

Persoalan ini juga ada dua wajah, yang pertama, “Tidak”. Ini wajah yang ashoch (lebih benar) menurut kebanyakan ulama’. Mereka berargumen bahwa esensial korban itu qurbah (ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah), maka wajib adanya niat. Sedangkan wajah yang kedua, “Ya, dapat dianggap ta’yinul udlhiyah (menentukan hewan korban) sekaligus niatnya dan penyembelihannya”. Pendapat ini didukung oleh Imam Haromain dan Imam Ghozali, karena dalam perkataan itu sudah mengandung niat.

Bahkan dengan wajah yang kedua tersebut, as-Syekh Abu Hamid menetapkan sah korbannya, walaupun pada saat menyembelih dia meyakini itu kambing daging (bukan kambing korban), atau kambing tersebut disembelih oleh pencuri. Waallohu a’lam.

Referensi :

أسنى المطالب شرح روض الطالب - (ج 6 / ص 483). ( وَلَا بُدَّ ) فِي التَّضْحِيَةِ ( مِنْ النِّيَّةِ ) ؛ لِأَنَّهَا عِبَادَةٌ ( وَلَوْ قَبْلَ الذَّبْحِ ) عِنْدَ تَعْيِينِ الْأُضْحِيَّةِ كَمَا فِي الزَّكَاةِ وَالصَّوْمِ.

المجموع شرح المهذب - (ج 8 / ص  406- 405). (فرع) قال اصحابنا والنية شرط لصحة التضحية وهل يجوز تقديمها على حالة الذبح ام يشترط قرنها به فيه وجهان (أصحهما) جواز التقديم كما في الصوم والزكاة على الاصح (والثاني) يشترط قرنها كنية الصلاة والوضوء. ولو قال جعلت هذه الشاة ضحية فهل يكفيه التعيين والقصد عن نية التضحية والذبح فيه وجهان (اصحهما) عند الاكثرين لا يكفيه لان التضحية قربة في نفسها فوجبت فيها النية (ورجح) امام الحرمين والغزالي الاكتفاء لتضمنه النية وبهذا قطع الشيخ أبو حامد قال حتى لو ذبحها يعتقدها شاة لحم أو ذبحها لص وقعت الموقع والمذهب الاول. انتهى.