Republik Bumimaya

Berita dan kajian Islam NUsantara

Jokowi ad-Dakhil (Sang Penakluk)


Mengamati laju politik di negeri ini jadi geli sendiri, padahal sebenarnya aku bukan pengamat politik sih…. Tapi senang saja mengamatinya. Terlebih mengamati suhu politik sekarang ini yang sebenarnya sudah mendidih tapi tidak begitu kentara di permukaan, walaupun gaung suara didihan itu memenuhi medsos-medsos di negeri ini.

Tidak seluruhnya sih, yang akan saya amati, hanya tentang sepak terjang presiden kita saja yang sepertinya lihai sekali menggiring bola dan memasukkannya ke gawang lawan-lawan dan pembenci-pembencinya.

Dulu chinaisasi jokowi yang di umpankan ke public oleh lawan-lawan politiknya, sedangkan jokowi masih enjoi saja memainkan bolanya dan terus ia giring sampai mampu menjebol gawang lawannya, mati kutu. Hebatnya setelah itu, jokowi merangkul lawan-lawannya itu dan menggabungkan mereka ke dalam timnya untuk di ajak bersama-sama membangun negeri ini.

Sekarang PKIsasi Jokowi. Bola panas ini oleh jokowi diterima begitu saja tanpa emosi dan tetap tenang, dia hanya bilang, "Silakan dicek orangtua saya tinggal di mana, di desa, di kampung mana, kakek nenek juga bisa dicek. Sangat mudah sekali di era keterbukaan ini, sebetulnya saya males menanggapi ini. Tapi karena ada kesempatan, saya sampaikan lah karena ini forum besar,"  kemudian, masih kata jokowi menanggapi isu kebangkitan PKI, “Kalau ada, tunjukkan kepada kita, tunjukkan kepada saya, saya gebuk, detik itu juga, saya minta untuk menindak," ujar Jokowi saat menghadiri kajian Ramadan di Universitas Muhammadiyah Malang, Sabtu, 3 Juni 2017 dulu itu.

Kemudian muncul lagi tuduhan “Kriminalisasi Ulama”, Eee… lagi-lagi jokowi menepis tuduhan itu dengan memutar bolanya sangat manis. Tepat di bulan Agustus dalam rangkah menyambut hari ulang tahun kemerdekaan RI yang ke 72, jokowi menggandeng ulama-ulama sepuh yang notabene ulama-ulama khos NU yang di antara mereka adalah tim “ahlul halli wal aqdi” yang di percaya oleh kalangan NU untuk mengangkat Rois Suriyah pada Mu’tamar Jombang 2015, dalam acara dzikir HUBUL WATHON (cinta tanah air) di depan istana negara yang bertujuan  menggugah komitmen para ulama dan seluruh elemen bangsa untuk menjaga NKRI dengan berdzikir.

Terus… kita tunggu saja, upaya apa lagi yang akan di kemas oleh Jokowi phobias dan tindakan apa yang akan di lakukan oleh Jokowi Sang Penakluk dalam menepis upaya-upaya itu, selamat menunggu dan mengamati.

Oh ya… nama Jokowi ad-Dakhil itu memang sengaja saya pinjam dari nama Gus Dur “Abdur Rohman Ad-Dakhil”, tapi tidak untuk tujuan apa-apa lho… hanya ingin saja menambah nama JOKOWI dengan ADDAKHIL karena beliau memang lihai dalam menerima serangan dan mematahkan serangan-serangan itu dengan cantik.


By ; www.republikbumimaya.online