Republik Bumimaya

Berita dan kajian Islam NUsantara

Bolehkah Orang yang Berkorban Memakan Daging Hewan Korbannya?


Sebelumnya perlu dimengerti terlebih dahulu, bahwa hukum berkorban itu sunnah mu’akkad, kecuali kalau berkorbannya itu karena nazhar, maka hokum korban berubah menjadi wajib.

Berkenaan dengan judul di atas “Bolehkah Orang yang Berkorban Memakan Daging Hewan Korbannya?”. Maka menurut syafi’iyah, boleh memakannya, bahkan hingga 1/3 (sepertiga) nya daging korban, kecuali kalau berkorbannya itu karena nazhar, maka orang itu tidak boleh memakan secuilpun daging hewan korbannya tersebut.

Artinya, jika korbannya bukan karena nazhar maka si-pengorban boleh memakan daging hewan korbannya hingga 1/3 (sepertiga) nya. Lalu 2/3 (dua per tiga) nya dibagi-bagi. Sepertiganya dibagikan kepada fakir miskin, yang sepertiganya lagi di sedekahkan kepada pengemis. Sesuai sabda Nabi SAW ;

روى ابن عباس في صفة أضحية النبي صلّى الله عليه وسلم : وَيُطْعِمُ أَهْلَ بَيْتِهِ الثُّلُثَ، وَيُطْعِمُ فُقَرَاءَ جِيْرَانِهِ الثُّلُثَ، وَيَتَّصَدَّقَ عَلىَ السُؤَّالِ بِالثُّلُثِ.

“Ibnu Abas bercerita tentang korbanya Rasulallah SAW: Rasulallah memberi makan keluarganya sepertiga, memberi makan tetangganya yang fakir sepertiga, dan di sedekahkan kepada orang yang meminta minta sepertiganya lagi”.

Referensi ;

أسنى المطالب شرح روض الطالب - (ج 7 / ص 22)، (وَيُسْتَحَبُّ إذَا أَكَلَ وَأَهْدَى وَتَصَدَّقَ أَنْ لَا يَزِيدَ أَكْلُهُ عَلَى الثُّلُثِ ) بِأَنْ يَقْتَصِرَ عَلَى الثُّلُثِ فَأَقَلَّ ( وَ ) أَنْ ( لَا تَنْقُصَ صَدَقَتُهُ عَنْهُ ) بِأَنْ يَتَصَدَّقَ بِالثُّلُثِ فَأَكْثَرَ وَيُهْدِيَ الْبَاقِي .


المجموع شرح المهذب - (ج 8 / ص 413) وان كان نذرا نظرت فان كان قد عينه عما في ذمته لم يجز أن يأكل منه لانه بدل عن واجب فلم يجز أن يأكل منه كالدم الذي يجب بترك الاحرام من الميقات وان كان نذر مجازاة كالنذر لشفاء المريض وقدوم الغائب لم يجز أن يأكل منه لانه جزاء فلم يجز أن يأكل منه كجزاء الصيد فان أكل شيئا منه ضمنه