Republik Bumimaya

Berita dan kajian Islam NUsantara

Anjing dan Tongkat si-Sufi

Pada suatu hari ada seseorang yang berpakaian Sufi berjalan ke masjid, di tengah jalan, tiba-tiba ada seekor anjing mendekatinya dan menjilatinya. Sepertinya anjing itu menganggap orang itu seperti tuannya.

Mungkin karena jijik atau menganggap anjing adalah hewan yang najis, dengan kontan dan sekonyong-konyong orang itu memukul keras anjing itu dengan tongkatnya. Si Anjing, sambil melolong kesakitan, ia berlari menuju Abu Said (Seorang Ulama pada zaman itu), lalu menjatuhkan dirinya di dekat kaki Sang Ulama sambil memegang moncongnya yang terluka, ia mengadu dan memohon keadilan karena telah diperlakukan secara kejam oleh orang yang berpakaian sufi itu.


Ringkas cerita, Abu Said mempertemukan keduanya (seorang yang berpakaian Sufi itu dan si-Anjing), bermaksud menyelesaikan masalah aduhan si-Anjing atas kedzaliman si-Orang yang berpakaian sufi itu, lalu Abu Said pun bertanya kepada orang itu, tentang alasannya, kenapa memukul moncong si-Anjing sampai terluka.

si-Orang yang berpakaian sufi itu menjawab, "itu sama sekali bukan salahku, tapi salahnya. Saya tidak mungkin memukulnya tanpa alasan, saya memukulnya karena ia menjilati dan mengotori jubahku."

Mendengar jawaban itu, lalu Abu Said bertanya kepada si-Anjing, Wahai Anjing…! Kenapa engkau menjilati dan mengotori jubahnya?

Si Anjing pun menjawab, "Wahai Sang Agung dan Bijaksana! Ketika saya melihat orang ini berpakaian sebagai Sufi, saya berfikir  bahwa ia tak akan menyakiti saya, saya berfikir bahwa ia penuh belas kasih. Kesalahan utama saya adalah salah menganggap bahwa pakaian orang itu menandakan dirinya. Tuan pantas menghukumnya, rampaslah pakaian Sufinya itu, agar orang tak salah menilai karena penampilannya, sehingga merendahkan orang-orang sufi yang sebenarnya".

Catatan :

Kisah ini saya ambil dari buku “Kisah-kisah Sufi” karangan Idries Shah dengan sedikit penyesuaian. Dalam buku itu disebutkan, bahwa kisah ini sering di ceritakan oleh orang-orang sufi pada abad ke Sembilan. Saya juga pernah mendengar Kiyai Said Aqil Siraj (Ketum PBNU), menceritakan kisah ini dalam ceramahnya dengan versi lebih kekinian, yang akibatnya beliau di bully oleh orang-orang yang tidak menyukainya.

Hikmah kisah ini adalah sebagaimana kata orang jawa : “Ajining rogo mergo busono, Ajining jiwo mergo wicoro”. Secara umum memang manusia akan dihormati jika ia berpakaian yang baik, sopan dan rapih (Ajining rogo mergo busono). Tapi jangan mudah tertipu dengan penampilan dzohir, hanya menilai seseorang dari kesingnya saja “Don’t Judge Only by The Cover”. Akan tetapi juga harus melihat bicaranya, baik berbicara dengan lesan atau melalui prilakunya sehari-hari (Ajining jiwo mergo wicoro).