Masjid Demak icon Wali Songo


Masjid Agung Demak ini konon dibangun oleh Raden Patah dan Wali Songo hanya dalam waktu satu malam. Masjid yang letaknya di tengah kota berada tepat di depan alun-alun Demak itu berdiri sejak sekitar abad ke-15.

Secara umum, pembangunan kota-kota di Pulau Jawa banyak kemiripannya dengan kota Demak Bintoro, yaitu suatu bentuk satu-kesatuan antara bangunan masjid, keraton, dan alun-alun yang berada di tengahnya. Pembangunan model ini diawali oleh Dinasti Demak Bintoro.

Masjid Agung Demak dibangun oleh sultan pertama dari Kesultanan Demak bernama Raden Patah, serta para Wali Songo yang dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa. Kabarnya, pembangunan masjid tersebut selesai dalam waktu tak lebih dari sehari. Menurut Penjaga Museum Masjid Agung Demak masjid tersebut dibangun dari mulai pagi sampai subuh.

Raden Patah bersama Wali Songo mendirikan masjid yang karismatik ini ditandai dengan candrasengkala “Lawang Trus Gunaningjanmi”. Sedang pada gambar bulus yang berada di mihrab masjid ini terdapat lambang tahun Saka 1401 yang menunjukkan bahwa masjid ini berdiri tahun 1479.

Gambar bulus itu terdiri atas kepala yang berarti angka 1 (satu), 4 kaki berarti angka 4 (empat), badan bulus berarti angka 0 (nol), ekor bulus berarti angka 1 (satu). Dari simbol ini diperkirakan Masjid Agung Demak berdiri pada tahun 1401 Saka.

Atap Masjid Agung Demak ditahan empat tiang kayu raksasa yang khusus dibuat empat wali di antara Wali Songo. Saka sebelah tenggara adalah buatan Sunan Ampel, sebelah barat daya buatan Sunan Gunung Jati, sebelah barat laut buatan Sunan Bonang, sedang sebelah timur laut merupakan sumbangan Sunan Kalijaga.

Dari keempat tiang, ada satu yang cukup unik. Salah satu tiangnya ada yang merupakan gabungan dari serpihan-serpihan kayu yang disebut soko tatal. Ini adalah tiang yang dibawa atau dibuat oleh Sunan Kalijaga.

Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Atap limas Masjid terdiri dari tiga bagian yang menggambarkan ; (1) Iman, (2) Islam, dan (3) Ihsan.

Di Masjid ini juga terdapat “Pintu Bledeg”, mengandung candra sengkala, yang dapat dibaca Naga Mulat Salira Wani, dengan makna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.

Masjid Agung Demak memang didirikan sedemikian rupa agar bisa difungsikan sebagai tempat ibadah serta berkumpulnya para Wali Songo dalam rangkah berdiskusi untuk memecahkan masalah umat.

Sejak pertama kali dibangun, masjid ini telah direnovasi satu kali pada tahun 1984. Hingga sekarang masjid selalu dikunjungi oleh masyarakat yang ingin wisata religi, baik dari dalam maupun luar negeri. Pengunjung selain bisa beribadah juga bisa ziarah ke makam Raden Patah, Syekh Maulana Magribi dan lain-lain di area belakang masjid. (Dari berbagai sumber)

Republik Bumimaya

Selamat datang di Republik Bumimaya. Kami hadir untuk memberikan berita-berita menarik, bisa dipercaya, juga siap menyuguhkan kajian dan wawasan tentang Islam NUsantara, Islam Rahmatal Lil 'Alamiin