Republik Bumimaya

Berita dan kajian Islam NUsantara

Kisah Tiga Sahabat Baik


Dudung, Supit dan Parjo adalah tiga orang sahabat yang sedang dalam perjalanan jauh dan melelahkan; mereka bergembira dan berduka bersama, mengumpulkan kekuatan dan tenaga bersama. Setelah beberapa hari dalam perjalanan, mereka baru menyadari bahwa yang mereka miliki hanya tinggal sepotong roti dan seteguk air mineral.

Mereka pun akhirnya membicarakan tentang siapa yang berhak memakan dan meminum sisa bekal tersebut. Karena tidak berhasil mencapai kesepakatan, akhirnya mereka memutuskan untuk membagi saja makanan dan minuman itu menjadi tiga. Karena dalam pembagian itupun tidak bisa sama, mereka pun akhirnya mengurungkan niat untuk membaginya menjadi tiga.

Malampun akhirnya tiba, salah seorang dari mereka mengusulkan agar tidur saja. Kalau besok mereka bangun, orang yang telah mendapatkan mimpi yang paling menakjubkan akan menentukan apa yang harus dilakukan.

Pagi harinya ketiganya berkumpul dan membicarakan kesepakatannya semalam, yaitu “siapa yang mimpinya paling menakjubkan, maka ia berhak menentukan apa yang harus dilakukan”.

Supit yang sejak tadi megangin perutnya, tidak sabar ingin segera menceritakan mimpinya, "Inilah mimpiku," kata Supit. "Aku seperti berada di tempat yang tidak bisa digambarkan, begitu indah dan tenang. Aku berjumpa dengan seorang bijaksana yang mengatakan kepadaku, 'Kau berhak makan makanan itu, sebab hidupmu lebih berharga dan berma’na dikemudian hari".

"Aneh sekali," kata Parjo. "Sebab dalam mimpiku, aku jelas-jelas melihat semua kehidupan masa lampau dan masa depanku. Dalam masa depanku, kulihat seorang lelaki maha tahu, berkata, 'Kau berhak akan makanan itu lebih dari kawan-kawanmu, sebab kau lebih berpengetahuan dan lebih sabar. Kau harus cukup makan, sebab kau ditakdirkan untuk menjadi penuntun manusia."

Selanjutnya tinggal mendengar mimpi si Dudung, setelah itu baru akan ditentukan, mimpi siapa yang paling menakjubkan.

Dudung akhirnya berkata, "Aku tidak mimpi apapun”.

“Ya sudah, berarti Dudung tinggal nunggu keputusan kita berdua”. Kata Parjo.

Iya Dung, mau tidak mau kamu harus menunggu keputusan kami berdua”. Timpal si-Supit.

“E..e..e.. nanti dulu”, kata Dudung, “aku memang tidak mimpi tadi malam, tapi…”, lanjut Dudung, “mungkin sekitar jam 1 atau 2 aku terbangun dan merasakan seperti ada kekuatan hebat yang memaksaku mendekati dan memakan sepotong roti dan seteguk air mineral itu, karena kekuatan itu begitu hebatnya hingga aku kalah”. Pungkas Dudung.

Parjo dan Supit ; ????????!!!!!!.