Republik Bumimaya

Berita dan kajian Islam NUsantara

Jualan PKI dan Jualan Islam, Lebih Laku Mana ya??


Kalau kita membuka lembaran tahun-tahun lalu saat pak Jokowi Calon Presiden, gencar sekali hantaman fitnah datang menyandranya, lawan politiknya membentuk opini dengan cara-cara pecundang dan tidak kesatria. Sekarang sudah mulai gencar lagi diulang, sampai puncaknya nanti menjelang Pilpres 2019. Mungkin mereka sadar betul bila dengan cara yang bersih sulit mengalahkan Jokowi.

Tak sedikit masyarakat yang termakan propaganda busuk itu, bahkan mereka saat ini terang-terangan menghina Jokowi tanpa merasa bersalah atau merasa malu dengan pengalaman saat dulu itu, dilain sisi mereka seperti orang yang sangat agamis. Ketika ditanya, “punya bukti?”. Mereka malah balik bertanya, “Antum muslim?”

Jokowi itu asli Jawa dan bukan keturunan manapun dan turun temurun sebagai keluarga muslim yang taat. Dalam melaksanakan kegiatan ubudiyahnya, Jokowi seperti muslim pada umumnya. Jadi imam atau makmum ya biasa saja. Mau di masjid besar seperti halnya di Niujie Beijing saat kunjungan kenegaraan ke Tiongkok, atau di masjid kecil saat kunjungan kerja di Papua baginya tak ada bedanya. Satu hal yang khas bagi Jokowi, seperti halnya mantan Presiden Habibie, puasa Senin Kamis menjadi menu ibadahnya.

Perlu ditegaskan bahwa PKI itu cuma masa lalu yang dibesar-besarkan kelompok tertentu, meskipun berkoar-koar sampai njedir lambene (jawa, bibirnya ndower), PKI tak akan laku pesat di Indonesia, Seandainya PKI muncul sedikit saja, pasti sudah disikat habis oleh TNI dan Polri. Prediksi yang mendekati kebenaran sekarang ini adalah, jika di Indonesia ini yang di koar-koarkan adalah “Islam”, “al-Qur’an”, maka bisa laku cepat.

Untuk itu Pemerintah dan organisasi-organisasi pecinta Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, pendukung NKRI dan UUD 1945, harus lebih waspada, baik dari serangan PKI (kalau-kalau itu ada) atau dari bokongan organisasi seperti DI dan TII. Karena mereka adalah bughot negara, pemberontak tanah air, harus diwaspadai.