Republik Bumimaya

Berita dan kajian Islam NUsantara

Alhamdulillah Pemerintah Bubarkan HTI


Indonesia adalah Negara hasil kesepakatan para pejuang kemerdekaan,  mereka sepakat dengan bentuk Negara kesatuan, dengan falsafah Bhineka Tunggal Ika, dengan aturan-aturan yang bisa mengakomodir semua elemen masyarakat yang tertuang dalam UUD dan ideology Pancasila.

Mereka sengaja menentukan itu agar perbedaan-perbedaan pada masyarakat tidak memicu perselisihan apalagi pertumpahan darah yang sia-sia. Karena diakui atau tidak, bahwa semua agama pasti pemeluknya menganggap agamanyalah yang terbaik dan yang terbenar, bahwa setiap etnis pasti membanggakan etnisnya masing-masing.

Akan tetapi ada orang-orang yang sok agamis, mencoba mengganti tatanan Negara yang sudah bertahun-tahun baku dan berjalan dengan baik. Masyarakatnya  diadu domba dengan jargon-jargon agama dan dengan isu-isu miring para aparatur pemerintahan.

Tujuannya adalah memupuk kebencian masyarakat dengan negaranya sendiri, dengan tanah airnya sendiri dengan lontaran-lontaran kata dan tulisan “Negara kafir, Undang-Undang thoghut, Parlemen Dajjal” dengan massif mereka susupkan ke kampus-kampus, ke komunitas-komunitas masyarakat dari seluruh lapisan.

Ironinya kok ada orang-orang yang mempercayai, kemudian ikut-ikut mengkafir-kafirkan, menthoghut-thoghutkan Negara tempat kelahirannya sendiri. Padahal Negara itu tempat ia mencari makan, tempat ia mengambil air minum, tempat ia menikah, tempat ia mencari nafkah untuk keluarganya dan tempat ia bisa khusyuk menengadahkan tangan kepada tuhannya.

Ajib memang, mereka mengkafir-kafirkan tapi mau makan (baca; MBADOK) hasil buminya. Menthoghut-thoghutkan tapi kerasan (baca; NJONGOS) di Negara yang katanya thoghut ini. Kalau memang ini Negara kafir, ya sudah, nyah kamu dari negeri ini, kalau memang undang-undangnya thoghut, berhentilah Njongos di negeri ini. Kalau memang parlemennya dajjal, ya sudah carilah parlemen lain sesuai kehendakmu, dan tentunya itu tidak ada di negeri ini. Jadi… tegasnya MINGGATO KO INDONESIA.

Di sisi lain ada orang-orang yang tidak ada keperpihakan dengan organisasi-organisasi yang ada di Indonesia, mereka selalu bilang yang penting seagama berarti benar. Mengecam salah satunya berarti mengecam agamanya. Orang-orang seperti ini yang sering membuat persoalan menjadi lebih runyam. Sikap itu entah keluar dari kesengajaan atau kebodohan… wa allohu a’lam.

Setiap organisasi mempunyai muara tujuan, jika muaranya adalah menggoyang NKRI maka mereka adalah musuh Negara, musuh bangsa Indonesia, tak peduli agamanya apa. Misalnya saja ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Ormas ini dalam setiap event-event yang di adakannya, bisa dibilang selalu meneriakkan system khilafah dalam bernegara, mengecam demokrasi, menghina pancasila dan mengolok-olok Indonesia dengan ocean-ocean seperti “kafir, thoghut, dan dajjal”.

Alhamdulillah sekarang pemerintah telah mengambil tindakan selangkah dalam pembubaran ormas anti Pancasila itu. Akan tetapi ada saja orang-orang yang ingin masang badan sebagai pahlawan kesiangan, bicara keras di media bahwa langkah pemerintah itu melanggar HAM melanggar kebebasan berpendapat dan berorganisasi, harusnya pemerintah melakukan ini dulu- itu dulu sebelum mengambil langkah pembubaran.

Tujuan orang-orang seperti ini jelas, kalau berhasil meggagalkan upaya pemerintah dalam membubarkan HTI, maka orang-orang itu akan mendapat tambahan dukungan dalam meraih nafsu politiknya atau sekedar meluaskan pengaruhnya.

Akhirnya saran saya, “wahai orang-orang Hizbut Tahrir, para pendukung perjuangan Hizbut Tahrir, para pahlawan kesiangannya Hizbut Tahrir…!!. Praktikkan dulu system khilafah pujaanmu itu di negerimu sendiri, di negeri asal kelahiranmu. Setelah berhasil, pemerintahannya bersih, rakyatnya makmur dan sejahtera, tidak ada ketimpangan dan ketidak adilan di sana, baru tawarkan system itu kepada kami. Jangan hanya konsep-konsep dan konsep”.