Republik Bumimaya

Berita dan kajian Islam NUsantara

Peran Tasawuf dalam Penyebaran Agama Islam dan Kebangkitan Peradaban


Istilah Tasawuf pada dasarnya tidak ada bedanya dengan istilah-istilah ilmu yang lain. Seperti fikih, tafsir, hadits, dll. Pada permulaan Islam, istilah – istilah tersebut juga belum dikenal, namun tidak dikenalnya istilah tersebut tidak kemudian divonis sebagai sesuatu yang sesat. Karena sejatinya, istilah tasawuf adalah nama baru untuk sesuatu yang ada sejak dahulu (ismun jadid limusamman qadim).

Tasawuf pada dasarnya adalah upaya pengamalan Ihsan yang merupakan salah satu pilar agama yang disebutkan dalam hadits Jibril”. Maka ketika ada yang bertanya kapan tasawuf timbul dalam Islam? Jawabannya ya … sejak Islam ada.

Lantas, sejauh manakah peran tasawuf dalam membentuk jatidiri umat Islam serta peradaban manusia? Kemenangan pasukan Islam pimpinan Salahuddin Al-Ayyubi saat merebut Yerusalem dari tangan pasukan Salib, merupakan representasi nyata dari kebangkitan spiritual mereka. Hal tersebut tidak lepas dari kehadiran Ihya Ulumuddin yang ditulis Imam al-Ghazali.

Secara umum, peran dan andil tasawuf setidaknya bisa dijabarkan dalam beberapa aspek. Dalam ranah yang paling sederhana, tasawuf memiliki peran membentuk manusia yang memiliki moral yang tinggi serta pribadi mukmin yang kuat yang tidak takut kecuali kepada Allah. Sedangkan dalam skala yang lebih luas, tasawuf telah memainkan perannya dalam menciptakan masyarakat yang beriman yang mampu menghadapi seluruh tantangan-tantangan kehidupan.

Selain itu, orientasi spiritual yang diajarkan tasawuf, dinilai ampuh untuk menyelamatkan masyarakat dari bahaya materialisme dan ekstrimisme yang muncul akibat mereka menjauh dari agama serta kedangkalan mereka di dalam memahami teks – teks syariat. Dan yang tak boleh dilupakan adalah andil tasawuf dalam penyebaran Islam di muka bumi.

Di India misalnya, para kaum sufi dinilai berhasil membumikan ajaran Islam tanpa harus menggunakan cara kekerasan. Fakta ini diakui sejumlah tokoh orientalis, seperti Masinouns. Orientalis asal Prancis itu berkata, “Sesungguhnya Islam tak pernah tersebar di India melalui jalur perang, melainkan melalui jasa para kaum sufi melalui tarekat – tarekatnya.”

Bagi Masinouns, hal itu disebabkan karena keharmonisan sosial antara mayoritas (dalam hal ini pemeluk Hindu) dan minoritas tak akan pernah terajut mesra kecuali dengan usaha keras para sufi yang berjuang ikhlas tanpa pamrih. Hal yang serupa juga terjadi di kawasan benua Afrika seperti Senegal, Mali, Nigeria, dan Ghana. Tentu sudah maklum, bahwa sejumlah negara tersebut adalah mercusuar perkembangan sejumlah tarekat sufi, sebut saja at-Tijaniyah, as-Sanusiyah, dan as-Syadziliyah.

Habib Umar bin Hafidz Hadlro Maut Yaman berkata, " Kita tidak akan menemukan satu negeri yang dimasuki Islam secara utuh tanpa peran tokoh tasawuf (sufi) ". di Indonesia Islam menjadi mayoritas juga berkat kegigihan perjuangan kaum sufi.