Republik Bumimaya

Berita dan kajian Islam NUsantara

Mencium Tangan Saat Bersalaman

Pada prinsipnya tradisi cium tangan tidaklah masalah. Baik itu mencium tangan orang tua atau orang-orang yang terhormat lainnya seperti kakek, paman, mertua, kiyai, ulama dan lainnya. Bila hal itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan kasih sayang, maka hal itu baik, karena menunjukkan bahwa kita memiliki tata krama dan sopan santun yang sesuai tuntunan akhlaqul karimah.

Memang ada ulama yang mengingkarinya, yaitu Imam Malik ibn Anas. Namun, larangan Imam Malik ini, sebagaimana kata Imam al-Abhari, hanya berlaku bila mencium tangan dilakukan untuk mengagungkan orang lain dan karena takabbur. Adapun jika hal itu dilakukan dengan niat ibadah kepada Allah, yakni dikarenakan keberagamaan orang tersebut, karena ilmunya atau karena kemuliaannya, hal itu dibolehkan.

Imam An-Nawawi berkata, "Mencium tangan orang lain karena kezuhudannya, karena kesalehannya, karena ilmunya, karena kemuliaannya atau karena hal-hal lain yang ada kaitannya dengan agama, maka tidak makruh, bahkan disunnahkan. (al-Futuhatur Robbaniyyah 5/378).

Rasulullah saw, misalnya, pernah membiarkan tangan dan dua kaki beliau dicium oleh dua orang Yahudi yang sowan pada beliau. (riwayat At-Tirmidzi dan Abu Dawud). Beliau juga membiarkan tangan dan dua kaki beliau dicium oleh anggota delegasi klan Abdul Qais.

Jabir r.a. pun pernah memergoki Umar mencium tangan beliau. (riwayat Abu Dawud). Konon, Ka'ab ibn Malik r.a. mencium tangan Rasulullah s.a.w. saat tobatnya diterima oleh Allah.

Para sahabat pun biasa melakukan cium tangan di antara mereka. Zaid ibn Tsabit r.a., misalnya, diceritakan mencium tangan Ibnu Abbas, dan Abu Ubaidah r.a. mencium tangan Umar r.a., Ali ibn Abi Thalib r.a. konon mencium tangan dan kaki Al-Abbas r.a., pamannya.

Cium tangan juga merupakan pelampiasan kecintaan para sahabat terhadap Nabi saw dan mengambil berkah dari tangan beliau saw. Sebagaimana dijelaskan bahwa Anas bin malik ra berkata, “kulihat mereka berebut mencium telapak tangan nabi saw dan menaruhkan telapak tangan beliau saw di wajah mereka, lalu kuikuti perbuatan mereka maka ketika kutaruh tangan beliau saw di wajahku maka kurasakan tangan itu lebih sejuk dari es, dan tak ada sutra yg lebih lembut dari telapak tangan beliau saw dan tak ada wewangian yg lebih wangi dari harumnya keringat beliau saw” (shahih Bukhari).

Diriwayatkan juga dari Ibnu Jada’an, bahwa setelah wafatnya Nabi SAW, Tsabit pernah menemui anas bin Malik ra, seraya bertanya,

"أمَسَسْتَ النبي صلى الله عليه وسلم بيدك؟ قال, نعم, فقبلها"

Adakah Rasulullah saw  pernah menyentuh tanganmu? Anas bin malik berkata, “iya”, Kemudian Tsabit mencium tangan Anas. (Adabul Mufrad oleh Imam Bukhari).