Kesaksian Ulama-Ulama Besar Dunia Tentang Kebenaran Tasawuf


Di bawah ini adalah kesaksian dari para ulama besar dunia dari kurun ke kurun lainnya, seperti pendapat imam-imam madzhab empat, pendapat ibnu taimiyah dan muridnya yaitu Ibnul Qoyyim al-Jauziyah, dan para ulama-ulama lain, kesaksian itu adalah sebagai berikut ;

  1. IMAM ABU HANIFAH (Nu’man bin Tsabit – Ulama besar pendiri mazhab Hanafi) adalah murid dari Ahli Silsilah Thariqat Naqsyabandiyah yaitu Imam Jafar as Shadiq ra . Berkaitan dengan hal ini, Jalaluddin as Suyuthi didalam kitab Durr al Mantsur, meriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah (85 H.-150 H) berkata, “Jika tidak karena dua tahun, Nu’man telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Imam Jafar as Shadiq, maka saya mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”.
  2. IMAM MALIK (Malik bin Anas – Ulama besar pendiri mazhab Maliki) yang juga murid  Imam Jafar as Shadiq ra, mengungkapkan pernyataannya yang mendukung terhadap ilmu tasawuf sebagai berikut, “Barangsiapa bertasawuf tanpa fiqih maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fiqih tanpa tasawuf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasawuf dengan disertai fiqih dia meraih kebenaran.” (‘Ali al-Adawi dalam kitab Ulama fiqih, vol. 2, hal. 195 yang meriwayatkan dari Imam Abul Hasan).
  3. IMAM SYÂFI’Î (w. 204H) Imam Syafii yang mazhab fiqihnya paling berpengaruh di Nusantara pun sangat alim dalam ilmu tasawuf. Hal ini seperti apa yang dituturkan oleh Al-Hâfiz As-Suyuti yang mengungkapkannya dalam Ta’yîd al-haqîqat al-âliyah bahwa Imam Syafi`i pernah mengatakan: “Saya menyertai para sufi dan memperoleh tiga hal saja dari mereka, yakni pernyataan: pertama, waktu adalah pedang, kalau bukan kamu yang mematahkannya, maka ia yang akan mematahkanmu; kedua, apabila kamu tidak terus menyibukkan egomu dengan kebenaran, maka ia akan menyibukkanmu dengan kepalsuan; ketiga, penghilangan adalah kekebalan. Dalam kitab Kasyful Khofa’ 2/27, Al-Ajluni juga meriwayatkan bahwa Imam Syafi`i mengatakan: “Tiga hal di dunia ini yang saya sukai, Tidak memaksa, berakhlak baik terhadap semua makhluq, dan mengikuti jalan ahli tasawuf.”
  4. IMAM AHMAD IBN HANBAL (w. 241H) Imam Mazhab Hambaliyah ini juga tidak menghujat ataupun mengkafirkan ahli tasawuf, seperti yang dilakukan orang-orang wahabi. Muhammad Ibn Ahmad As-Saffârini Al-Hanbali (w. 1188 H) menuturkan dari Ibrahim Ibn ‘Abd Allah Al-Qalasani bahwa Imam Ahmad mengatakan tentang kaum sufi. “Saya tidak mengetahui kaum yang lebih baik dari mereka.” Seseorang berkata kepadanya, “Mereka mendengarkan musik dan mereka sampai pada keadaan mabuk.” Beliau berkata, “Apakah kamu hendak mencegah mereka untuk bersenang-senang selama sejam bersama Allah?”
  5. IBNU TAIMIYAH. Beliau berkata: Adapun orang-orang dari mereka yang ada di jalan yang lurus, seperti kebanyakan para Ulama Salaf, semisal Fudzail bin ‘Iyadh, Ibrahim bin Adham, Abi Sulaiman Ad-Darany, Ma’ruf Al-Karkhi, Sirry As-Siqthi, Al-Juanaid bin Muhammad dan selain dari mereka yang terdahulu juga seperti Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Syekh Hammad, Syekh Abi Al-Bayan, dan selain mereka dari Ulama-Ulama Muta’akhirin, maka orang yang lurus menjalankan ajaran ini, tidak akan tertipu dan berbelok walaupun mereka bias terbang di atas awan dan berjalan di atas air, untuk keluar dari perintah-perintah dan tidak akan melanggar larangan-larangan yang Syar’i, akann tetapi dia harus melakukan apa yang telah diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarangkan Allah, sampai mereka meninggal dunia, dan hal ini telah ditunjukkan oleh Al Qur’an, As-Sunnah dan Ijma’ Ulama Salaf (Majmu’ul Fatawa ; 10/516 – 517)
  6. IBNUL QOYYIM AL-JAUZI. "Imam Syafi'i berkata " Aku berteman dgn kaum shufi dan tidaklah aku mendapat MANFA'AT dari mereka kecuali dua kalimat yang aku dengar dari mereka yaitu " Waktu itu adalah pedang jika kamu mampu memutusnya, jika tidak maka waktu itu yang akan memutusmu. Dan nafsumu jika tidak disibukkan dengan kebenaran, maka akan disibukkan dgn kebathilan ". Aku katakan (Ibnul qoyyim): " Aduhai sangatlah bermanfaat dan mencangkup dua kalimat tsb dan sangat menunjukkan atas tingginya semangat dan ketajaman pikiran org yang mengatakan dua kalimat tsb, dan cukuplah hal ini sebagai pujian imam Syafi'i pada mereka..." (Madarij As-Salikin juz 3 hal; 129)
  7. IMAM NAWAWI (620-676 H./1223-1278 M), Dalam suratnya al-Maqasid: “Ciri jalan sufi ada 5: menjaga kehadiran Allah dalam hati pada waktu ramai dan sendiri mengikuti Sunah Rasul dengan perbuatan dan kata menghindari ketergantungan kepada orang lain, bersyukur pada pemberian Allah meski sedikit, selalu merujuk masalah kepada Allah swt [Maqasid at-Tawhid, hal. 20]
  8. IBNU KHALDUN (733-808 H). Ulama besar dan filosof Islam berkata, “Jalan sufi adalah jalan salaf, yakni jalannya para ulama terdahulu di antara para sahabat Rasulullah Saww, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in. Asasnya adalah beribadah kepada Allah dan meninggalkan perhiasan serta kesenangan dunia.” (Muqadimah ibn Khaldun, hal. 328)
  9. IMAM JALALUDDIN AS SUYUTI. (Ulama besar ahli tafsir Qur’an dan hadits) didalam kitab Ta’yad al haqiqat al ‘Aliyyah, hal. 57 berkata, “Tasawuf yang dianut oleh ahlinya adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Ilmu ini menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah Nabi Saww dan meninggalkan bid’ah.”
  10. TAJUDDIN AS SUBKI. Kitab Mu’iid an-Na’iim, hal. 190, tentang Tasawuf : “Semoga Allah memuji mereka dan memberi salam kepada mereka dan menjadikan kita bersama mereka di dalam sorga. Banyak hal yang telah dikatakan tentang mereka dan terlalu banyak orang-orang bodoh yang mengatakan hal-hal yang tidak berhubungan dengan mereka. Dan yang benar adalah bahwa mereka meninggalkan dunia dan menyibukkan diri dengan ibadah” Dia berkata pula : “Mereka adalah manusia-manusia yang dekat dengan Allah yang doa dan shalatnya diterima Allah, dan melalui mereka Allah membantu manusia”
  11. IBNU ‘ABIDIN. Ulama besar, Ibn ‘Abidin dalam Rasa’il Ibn Abidin (p. 172-173) menyatakan: ” Para pencari jalan ini tidak mendengar kecuali Kehadiran Ilahi dan mereka tidak mencintai selain Dia. Jika mereka mengingat Dia mereka menangis. Jika mereka memikirkan Dia mereka bahagia. Jika mereka menemukan Dia mereka sadar. Jika mereka melihat Dia mereka akan tenang. Jika mereka berjalan dalan Kehadiran Ilahi, mereka menjadi lembut. Mereka mabuk dengan Rahmat-Nya. Semoga Allah merahmati mereka”. [Majallat al-Muslim, 6th ed., 1378 H, p. 24].
  12. SYEIKH RASYID RIDHA. Dia berkata,”Tasawuf adalah salah satu pilar dari pilar-pilar agama. Tujuannya adalah untuk membersihkan diri danmempertanggung jawabkan perilaku sehari-hari dan untuk menaikan manusia menuju maqam spiritual yang tinggi” [Majallat al-Manar, tahun pertama hal. 726].
  13. MAULANA ABUL HASAN ALI AN-NADWI. Maulana Abul Hasan ‘Ali an-Nadwi anggota the Islamic-Arabic Society of India and Muslim countries. Dalam, Muslims in India, , p. 140-146, “Para sufi ini memberi inisiasi (baiat) pada manusia ke dalam keesaan Allah dan keikhlasan dalam mengikuti Sunah Nabi dan dalam menyesali kesalahan dan dalam menghindari setiap ma’siat kepada Allah SWT. Petunjuk mereka merangsang orang-orang untuk berpindah ke jalan kecintaan penuh kepada Allah” “Kita bersyukur atas pengaruh orang-orang sufi, ribuan dan ratusan ribu orang di India menemukan Tuhan mereka dan meraih kondisi kesempurnaan melalui Islam”
  14. ABU ‘ALA AL MAUDUDI. Dalam Mabadi’ al-Islam (hal. 17), “Tasawuf adalah kenyataan yang tandanya adalah cinta kepada Allah dan Rasul saw, di mana sesorang meniadakan diri mereka karena tujuan mereka (Cinta), dan seseorang meniadakan dari segala sesuatu selain cinta Allah dan Rasul” “Tasauf mencari ketulusan hati, menyucikan niat dan kebenaran untuk taat dalam seluruh perbuatannya.”
  15. Dr. YUSUF AL-QARADLAWI. (Ketua Ulama Islam Internasional dan juga guru besar Universitas al Azhar – Beliau merupakan salah seorang ulama Islam terkemuka abad ini) didalam kumpulan fatwanya mengatakan : “Arti tasawuf dalam agama ialah memperdalam ke arah bagian ruhaniah, ubudiyyah, dan perhatiannya tercurah seputar permasalahan itu.” Beliau juga berkata, “Mereka para tokoh sufi sangat berhati-hati dalam meniti jalan di atas garis yang telah ditetapkan oleh Al-Qur,an dan As-Sunnah. Bersih dari berbagai pikiran dan praktek yang menyimpang, baik dalam ibadat atau pikirannya. Banyak orang yang masuk Islam karena pengaruh mereka, banyak orang yang durhaka dan lalim kembali bertobat karena jasa mereka. Dan tidak sedikit yang mewariskan pada dunia Islam, yang berupa kekayaan besar dari peradaban dan ilmu, terutama di bidang marifat, akhlak dan pengalaman-pengalaman di alam ruhani, semua itu tidak dapat diingkari.”
Share on Google Plus

About Republik Bumimaya

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment
::: Simak juga berbagai info republikbumimaya.Online melalui media sosial Twitter, Facebook, google+ dan youtube :::: Kritik, saran, informasi, artikel dan pemasangan iklan, dapat dikirimkan kepada kami melalui Contact kami :::