Dr. Ainur Rofiq Al-Amin: Karena ditolak dimana-mana, HTI melempar isu "Sesama Muslim Harusnya Tidak Bermusuhan"


Dr. Ainur Rofiq al-Amin adalah salah satu santri yang dulu pernah masuk dan aktif di Hizbut Tahrir Indonedia (HTI). Kini, ia telah kembali ke pangkuan NKRI setelah menyadari bahwa NKRI itu bukan simsalabim ujug-ujug ada dan membesar. NKRI adalah negara kesepakatan yang dibangun berdarah-darah.

Jika dulu ia memiliki tugas bergerilya dari tokoh ke tokoh, untuk mempengaruhi agar mereka mendukung khilafah, kini dia justru jadi rujukan jawaban atas pertanyaan masyarakat umum yang acapkali dikampanyekan kalangan HTI untuk menggerus kemantapan warga negara Indonesia tetap berada di barisan Pancasila, lalu mengikuti propaganda mereka, yakni khilafah.

Setidaknya, itulah yang terekam dalam dialog "Khilafah dan Wawasan Kebangsaan" yang diselenggarakan oleh tim Harakatuna di Hotel Pelangi 2 Malang, Jumat (28/04/2017).

"Orang-orang perindu khilafah itu sering melontar pertanyaan dungu, misalnya, "Pilih syariat Islam atau Pancasila?" Jika yang ditanya menjawab "syariat Islam", maka mereka akan terus merazia pikiran orang itu dengan kesimpulan ngawur, "berarti harus mendukung khilafah". Kata Ainur Rofiq saat didaulat menjadi pembicara dalam dialog "Khilafah dan Wawasan Kebangsaan" bersama Muhammad Sofi dan juga Makmun Rasyid.

Dua kalimat di atas, yakni syariat Islam dan khilafah adalah duet maut bila digandengkan. "Jika mereka malu-malu pakai kata "khilafah", maka mereka menggunakan kata "syariat Islam", ujarnya kepada ratusan hadirin di ruangan itu, sebagaimana dirilis dalam page Santrionline.

Jika orang-orang HTI ditanya, maunya khilafah menurut konsep siapa? ISIS atau ala Hizbut Tahrir? Terus kalau mau bongkar NKRI diganti khilafah, apa jaminan baiknya untuk manusia?, lanjut Rofiq, jawaban mereka akan berkelit bahwa memperjuangkan khilafah adalah kewajiban umat Islam. Seakan-akan kalau mereka ikut dukung khilafah, langsung bebas dari dosa-dosa. "Aku juga bisa kalau hanya begitu," tutur Rofiq yang menyebut kalau umat Islam juga tidak boleh mengingkari kesepakatan terbentuknya NKRI.

Karena ditolak dimana-mana, para pendukung HTI sering melempar isu bahwa sesama umat Islam itu harusnya tidak saling bermusuhan. Artinya, biarkan HTI memperjuangkan khilafahnya, toh sama-sama Islam." Tambah Rofiq.

Wacana di atas hanyalah propaganda untuk menyetop penolakan gerakan Islam trasnasional dimana-mana, sebagaimana marak terjadi akhir-akhir ini. Bagi Rofiq, perkara HTI ditolak bukanlah soal dia muslim atau tidak, melainkan soal sikap kesepakatan dalam bernegara.

Tidak berhasil memperjuangkan agenda khilafah secara massif, HTI pun akhirnya menghaluskan cara dengan menyerap nilai-nilai yang berkembang di kalangan santri dan kiai NU, "saya tidak mau mengatakan taqiyah," terang Rofiq, misalnya, mereka (HTI) sudah mau pakai bahasa "rahmatan lil alamin" untuk acara-acara publikasi". pungkasnya. (dutaislam.com)

Republik Bumimaya

Selamat datang di Republik Bumimaya. Kami hadir untuk memberikan berita-berita menarik, bisa dipercaya, juga siap menyuguhkan kajian dan wawasan tentang Islam NUsantara, Islam Rahmatal Lil 'Alamiin