Republik Bumimaya

Berita dan kajian Islam NUsantara

Kadang Menghutangi itu Berpahala Lebih


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ مَكْتُوبًا: الصَّدَقَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا, وَالْقَرْضُ بِثَمَانِيَةَ عَشَرَ،  فَقُلْتُ يَا جِبْرِيلُ مَا بَالُ الْقَرْضِ أَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ، قَالَ لأنَّ السَّائِلَ يَسْأَلُ وَعِنْدَهُ وَالْمُسْتَقْرِضُ لا يَسْتَقْرِضُ إِلا مِنْ حَاجَةٍ.

Dalam salah satu hadits, dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, dikisahkan Rasulullah melihat tulisan di pintu surga pada saat beliau dalam perjalanan Isra’ Mi’raj. Sedekah (pahalanya) dilipat gandakan 10 kali lipat, sedangkan menghutangi dilipat gandakan sampai 18 kali lipat’. Kemudian aku bertanya kepada Malaikat Jibril, “Wahai  Jibril, mengapa hutangan lebih utama daripada sedekah?” Lalu Malaikat Jibril menjawab, “Karena seseorang yang meminta, (terkadang) ia masih memiliki (harta), sedangkan orang yang berhutang, ia tidak akan berhutang kecuali karena kebutuhan.”  (HR. Ahmad IV/296), At-Tirmidzi (1957), Ibnu Hibban (5074)).